Begini Sejarah Awal dan Seluk Beluk Pasar

Sabtu, 04 Desember 2021 22:15 Eris Kuswara Nasional

Begini Sejarah Awal dan Seluk Beluk Pasar

 

Koropak.co.id - Sekitar lima abad yang lalu, kata 'Pasar' diduga sudah digunakan dalam Bahasa Melayu dan Jawa. Kata Pasar sendiri berasal dari Bahasa Tamil (India) yakni 'Pasar' yang diambil dari Bahasa Persia yakni 'Bazar'. Meskipun begitu, keduanya memiliki arti tempat jual beli.

Olivier Johannes Raap dalam bukunya "Kota Di Djawa Tempoe Doeloe" menuliskan bahwa pasar sebenarnya sudah ada sebelum mata uang untuk alat pembayaran ditemukan. Selain itu di lokasi dan waktu tertentu, orang berkumpul untuk tukar menukar barang. Saat itu, para penguasa atau vasalnya memungut pajak dalam bentuk natura atau barang.

"Jauh sebelum Belanda tiba di bumi Nusantara, di kedalaman Pulau Jawa sendiri sudah terdapat uang domestik. Namun uang itu tidak digunakan sebagai alat tukar di pasar, melainkan untuk persembahan di kuil-kuil atau juga digunakan untuk transaksi yang sangat besar," tulis Olivier.

Olivier menjelaskan, selain uang domestik, banyak juga uang yang didapatkan dari para pelancong luar misalnya kepeng dari pedagang Tionghoa. Menariknya, saat orang pribumi mendapatkannya, uang tersebut justru dimanfaatkan sebagai bahan untuk produksi bahan hiasan.

Hingga pada awal zaman kolonial, tercatat banyak sekali mata uang yang beredar dengan nilai dan kurs yang kurang jelas hingga uang yang sulit dibedakan dengan uang palsu. Namun setelah diberlakukannya undang-undang keuangan pada tahun 1854, pada akhirnya uang pun secara umum mulai digunakan sebagai alat tukar di pasar domestik.

Bahkan peredaran uang juga mulai menghidupkan ekonomi di pedalaman. Imbasnya, perdagangan pun mulai berkembang dengan pasar sebagai pusatnya.

Akan tetapi, baik itu di wilayah yang dikuasai VOC maupun di kerajaan Jawa, kala itu tidak sembarangan orang boleh mengadakan pasar. Karena saat itu hak pasar disewakan oleh kolonial atau penguasa pribumi kepada pemilik tanah melalui sistem pacht.

Banyak sekali pasar besar di wilayah perkotaan yang beroperasi hingga kini dan ternyata merupakan warisan awal zaman kolonial. Meskipun begitu, tampaknya pasar-pasar tersebut mempunyai sejarah yang lebih tua yang sayangnya kurang terdokumentasikan.

Kala itu juga banyak pasar yang memiliki nama unik dan menceritakan tentang keadaan zaman dahulu. Nama pasar itu juga dapat berasal dari berbagai macam, mulai dari berdasarkan geografis, penanda lokasi yang dekat, hari buka berdasarkan hari pasaran, jam buka, barang yang dijual hingga faktor lain yang membedakannya dengan pasar lainnya.

 

 

Baca : VOC Bangun Benteng Sebagai Upaya Pertahankan Kekuasaan di Bumi Nusantara

Selain itu, terdapat juga hari pasar yang diadakan sepekan 5 atau 7 hari sekali. Hari pasar tersebut pada umumnya terdapat di daerah-daerah pedesaan.

Dahulu di sebuah kecamatan, setiap hari pasar digelar secara bergantian dari dusun ke dusun dengan mengikuti hari pekan. Sebutan hari pekan itu berarti saat hari pasar itu digelar yang mungkin digelar dalam selang tujuh hari.

Diketahui bahwa sebenarnya nama hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu berasal dari Arab yang seminggunya terdapat tujuh hari. Akan tetapi di banyak daerah di Jawa, pekan berisi lima hari saja berdasarkan kalender Jawa yakni Legi, Pahing, Pon, Wage dan Kliwon.

Alasan mengapa pada zaman dahulu kegiatan pasar mengikuti hari pasaran tertentu dan tidak setiap hari, karena hal itu berkaitan dengan kebudayaan di Pulau Jawa yang sejak lama ada tradisi dan kebiasaan untuk bekerja secara kolektif dalam satu desa yang mandiri.

Kemudian untuk alasan lainnya berkaitan dengan ekonomi. Sementara itu dalam perkembangannya, ada beberapa pasar yang pada akhirnya menjadi pasar-pasar yang beroperasi setiap hari dengan menempati kios-kios dan diisi oleh para pedagang profesional yang biasanya berasal dari etnis Tionghoa.

Saat itu mereka menjadi pedagang perantara antara pasar dan dunia luar. Mereka juga bisa menimbun barang murah yang kemudian menunggu hingga harga pasar meningkat lalu dijual pada pembeli di Kota.

Mereka juga turut mendatangkan barang dari luar untuk dijual di pasar. Perluasan kota dan pembangunan infrastruktur modern juga diketahui telah memberikan keuntungan pada pasar. Hal itulah yang menjadi penyebab beberapa pasar tradisional mengalam pertumbuhan besar.

Selain sebagai tempat jual beli, sejak dahulu pasar juga mempunyai fungsi lainnya yang cukup penting yaitu sebagai tempat bersosialisasi dan hiburan.

Seiring berjalannya waktu, kini banyak pasar lama yang masih tetap beroperasi sebagai pasar tradisional atau menjadi pusat grosir. Namun ada juga yang berubah menjadi pasar modern yang lebih mirip seperti mal lengkap dengan fasilitas penunjang lainnya.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait