Mang Koko, Sang Maestro Karawitan yang Karyanya Brilian

Minggu, 05 Desember 2021 11:39 Cepy RN Nasional

Mang Koko, Sang Maestro Karawitan yang Karyanya Brilian

 

Koropak.co.id - "Baranang bentang sulintang, di langit jurit di kalang, ngabiur sampiung ka alak paul, jangjangna jangjang sorangan", merupakan sepenggal kawih Sunda yang ciamik di ciptakan seniman jaman dulu kelahiran Tasikmalaya.

Siapakah itu?

Mang Koko, nama yang melejit di era tahun 1970-an waktu itu populer dengan beragam karya tembang kawih Sunda. Dengan nama asli Haji Koko Koswara yang lahir pada 10 April 1917 di Indihiang Tasikmalaya ini memiliki silsilah keturunan sultan dari sang ayah.

Dengan nama ayah Ibrahim alias Sumarta, beliau adalah keturunan dari Sultan Banten yang bernama Hasanudin yang beristri dan memiliki 8 anak serta sejumlah cucu. Tentu ini menjadikan Mang Koko bukan hanya seorang yang memiliki sejarah tentang karyanya melalui lagu, tapi juga garis keturunannya pun sungguh bukan dari kalangan orang biasa, hebat bukan?

Pada tahun 1932, mang Koko bersekolah di HIS atau Hollandsch Inlandsche School. Dikutip Koropak.co.id dari berbagai sumber, HIS adalah sekolah pada zaman penjajahan Belanda, sekolah ini yang diselenggarakan terbatas untuk anak-anak golongan atas pada masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia yang didirikan pada tahun 1914 oleh R. Ahmad Atmadja sekaligus ketua Bale Pawulangan Pasundan (BPP) pada tahun 1920.

Selanjutnya pada tahun 1935, mang Koko melanjutkan pendidikannya di MULO Pasundan. Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Pasoendan adalah Sekolah Menengah Pertama untuk raykat pribumi yang didirikan oleh Bale Pawulangan Pasundan (BPP) pada tahun 1928. Selain itu, mang Koko dikenal patuh kepada agama Islam yang diperoleh semenjak kanak-kanak.

Sejak tahun 1937, mang Koko mulai bekerja menjelang masa-masa revolusi, ia bekerja berturut-turut di Bale Pamulangan Pasoendan atau yang dikenal dengan Paguyuban Pasundan, kemudian di De Javasche Bank, Harian Cahaya (Cahaya Sinbun), Harian Suara Merdeka, Jawatan Penerangan Prov. Jabar.

Setelah itu pada tahun 1961 sampai 1973 menjadi Guru dilanjutkan sebagai Direktur Konservatori Karawitan Bandung, tidak berhenti sampai disitu mang Koko pun menjadi Dosen Luar Biasa di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung sampai akhir khayatnya pada 4 Oktober 1985.

Mang Koko memiliki bakat seni dari sang ayah yang tercatat sebagai ahli mamaos Ciawian dan Cianjuran, belajar sendiri dari seniman ahli karawitan Sunda yang terkemuka dan mempelajari hasil-hasil karya di bidang karawitan Sunda dari buku-buku karya Raden Machjar Angga Kusumadinata seorang ahli musik Sunda.

 

 

Baca : I Nyoman Masriadi, Seniman Bali dengan Berbagai Karya Fenomenalnya

Beliau juga sebagai pendiri dan Pimpinan Perkumpulan-perkumpulan Kesenian, yang ia kembangkan ialah Jenaka Sunda "Kanca Indihiang" pada tahun 1946, Taman Murangkalih pada tahun 1948, Taman Cangkurileung Taman Setia Putra dan Taman Ganda Mekar pada tahun 1950, lalu pada tahun selanjutnya berdiri Gamelan Mundinglaya 1951, dan Taman Bincarung pada tahun 1958.

Selain itu, mang Koko mendirikan dan menjabat sebagai ketua umum Yayasan Cangkurileung Pusat pada tahun 1989, yayasan yang dibangunnya pun tersebar di lingkunga sekolah seluruh pelosok Jawa Barat.

Beliau juga sebagai pendiri sekaligus Ketua Yayasan Badan Penyelenggara Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Bandung pada tahun 1971. Ia pun pernah menerbitkan Majalah Kesenian dengan nama Swara Cangkurileung pada tahun 1970 sampai 1983.

Seiring dengan perjalanannya, mang Koko berhasil menghimpun karya cipta lagu-lagu terbaiknya ke dalam buku-buku yang diterbitkan dan ada juga yang masih dalam bentuk naskah-naskah. Seperti Resep Mamaos pada tahun 1948, Cangkurileung ditahun 1952, Ganda Mekar ditahun 1970 hingga buku Bentang Sulintang/Lagu-Lagu Perjuangan cetakan kesatu pada tahun 1989 dan lainnya,

Bukan hanya lagu-lagu atau kawih Sunda saja, mang Koko pun berhasil menciptakan karya berupa Gending Karesmen atau Drama Swara seperti Gondang Pangwangunan, Bapa Satar, Adu Asih, Samudra, Gondang Samagaha, Berekah Katitih Mahal, Sekar Catur, Sempal Guyon, Saha?, Ngatrok, Kereta Api, Istri Tampikan, Si Kabayan dan lainnya.

Dengan segudang karyanya, tentu mang Koko sudah sukses menyimpan banyak penghargaan yang diraih dalam berkesenian. Penghargaan yang begitu banyak, baik diraih dari Pemerintah, Lembaga dan Organisasi Massa dan Piagam Wijayakusuma pada tahun 1971, Penghargaan tertinggi dari Pemerintah Pusat atau dalam hal ini Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, dengan kategori "Sebagai Pembaharu dalam Bidang Seni Karawitan".

Namun mirisnya saat ini banyak sekali anak-anak, remaja, maupun orang dewasa yang asli dari tanah Pasundan tidak mengenal sosok yang berjuta sejarah, bukan hanya sosoknya, karya dari lagu-lagunya pun banyak sekali masyarakat Jawa Barat saat ini yang hanya tahu dengan lirik, tapi tidak mengenal siapa yang menciptakannya. Miris memang.

Semoga tulisan ini bisa menjadi salah satu pengingat baraya Koropak perihal jasa beliau yang begitu besar dalam sejarah khususnya dibidang kesenian di Jawa Barat, sehingga kelak bisa diceritakan kembali ke anak cucu dimasa yang akan datang.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait