Sujiwo Tejo, Budayawan Nyentrik dengan Segudang Prestasinya

Minggu, 05 Desember 2021 17:02 Eris Kuswara Nasional

Sujiwo Tejo, Budayawan Nyentrik dengan Segudang Prestasinya

 

Koropak.co.id - Agus Hadi Sudjiwo atau yang lebih dikenal dengan nama Sujiwo Tejo merupakan seorang dalang wayang, aktor, pemusik, penulis dan budayawan Indonesia. Bahkan Sujiwo Tejo juga pernah menjadi seorang wartawan.

Pria kelahiran 31 Agustus 1962 di Jember, Jawa Timur tersebut diketahui menghabiskan masa kanak-kanaknya di Situbondo. Sejak kecil, Sujiwo Tejo sudah belajar mendalang dan merupakan bakat turunan dari sang ayah yang bernama Soetedjo.

Pada tahun 1981, Sujiwo Tejo pernah mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan mengambil jurusan Fakultas teknik Sipil sebelum pada akhirnya menerima surat Drop Out (DO) pada tahun 1988.

Selain menjadi seorang seniman dan budayawan, tercatat Sujiwo Tejo juga pernah menjadi seorang wartawan di media Kompas selama delapan tahun sebelum pada akhirnya memutuskan untuk berkarier sebagai penulis, pelukis, pemusik dan dalang wayang.

Dilansir dari Tribunnewswiki.com, pada masa awal kariernya di tahun 1994, Sujiwo Tejo berhasil menciptakan sendiri lakon-lakon wayang kulit yang dibawakannya berjudul 'Semar Mesem'.

Berselang beberapa tahun kemudian atau tepatnya pada tahun 1996, Sujiwo Tejo berhasil menyelesaikan 13 episode 'Ramayana' di Televisi Pendidikan Indonesia dan wayang acapella yang berjudul 'Shinta Obong' dan lakon 'Bisma Gugur'.

Sujiwo Tejo juga turut memprakarkasai berdirinya jaringan dalang pada tahun 1999. Pendirian jaringan dalang tersebut bertujuan untuk menumbuhkan nilai-nilai wayang dalam kehidupan masyarakat.

Pada tahun 2004, Sujiwo Tejo berhasil mendalang dengan keliling Yunani. Selain sebagai dalang wayang, Sujiwo Tejo dikenal sebagai penyanyi yang memulai karirnya di tahun 1998 berkat lagu-lagunya dalam album 'Pada Suatu Ketika'.

Bahkan video klip 'Pada Suatu Ketika' yang dibuatnya itu mampu meraih penghargaan sebagai video klip terbaik pada Grand Final Video Musik Indonesia tahun 1999.

Setelah membuat album 'Pada Suatu Ketika', Sujiwo Tejo kembali mengeluarkan album di tahun yang sama berjudul 'Pada Sebuah Ranjang'. Kemudian 'Syair Dunia maya' di tahun 2005 dan 'Yaiyo' di tahun 2007.

 

 

Baca : Cak Nun, Budayawan Asal Jombang yang Progresif

Sementara itu, di bidang teater, Sujiwo Tejo pernah aktif dengan mengajar teater di Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) sejak tahun 1997 dan mulai memberikan workshop di berbagai daerah di Indonesia sejak tahun 1998.

Tak sampai disana saja, Sujiwo Tejo juga turut menjajal dunia seni peran atau akting dan menjadi sutradara beberapa film Indonesia.

Tercatat, debut film pertamanya adalah 'Telegram' pada tahun 2001 dengan arahan Slamet Rahardjo dan lawan mainnya kala itu adalah Ayu Azhari.

Setelah itu, Sujiwo Tejo juga pernah membintang film-film bergengsi lainnya seperti 'Janji Joni', 'Kafir', 'Detik Terakhir', 'Sang Pencerah' hingga 'Tendangan dari Langit'. Sebagai sutradara, Sujiwo Tejo menghasilkan karya film 'Bahwa Cinta Itu Ada' pada tahun 2010.

Selain itu sebagai penulis, Sujiwo Tejo mampu menghasilkan berbagai buku karyanya sendiri seperti Kelakar Madura buat Gus Dur (Yogyakarta, Lotus, 2001), Dalang Edan (Aksara Karunia, 2002), The Sax (Eksotika Karmawibhangga Indonesia, 2003), Ngawur Karena Benar (Penerbit Imania, Februari, 2012) hingga Rahvayana 'Aku Lala Padamu' (Bentang Pustaka, Mei 2014).

Dilansir dari jawapos.com, Sujiwo Tejo terkenal dan memiliki ciri khas berpenampilan nyentrik dengan memakai sarung dan juga topi khas seniman. Meskipun begitu, banyak orang yang mengaku takjub melihat kesederhanaan Sujiwo Tejo.

Menariknya lagi, ketika diundang ke stasiun televisi pun, Sujiwo tak canggung dan tetap mengenakan seragam khususnya tersebut.

Sehingga bukan menjadi rahasia lagi jika Sujiwo Tejo merupakan sosok yang apa adanya. Selain itu, dalam gaya bahasa pun, dia tetap menyampaikan apa yang ada di pikirannya. Hal tersebutlah yang membuat beberapa orang terinisiatif juga untuk menyuarakan apa yang ada dipikirannya.

Di salah satu acara televisi, Sujiwo Tejo pernah mengatakan bahwa :

"Pak Abu Bakar, kyai, Pak Yanri, namanya mengingatkan kepada teman saya, di Jogja seorang dokter perempuan, semua hal mengingatkan saya pada perempuan, jadi banyak orang sembayang tapi sembayangnya enggak ada, beliau sembayang tapi menyalakan nonton film bukak layar, tek, yang belakang silau, yang belakang silau, mereka sembayang tapi membuang sampah sembarangan, mereka ke gereja tapi gerejanya enggak ada, sama aja pancasila, pancasilanya enggak onok," katanya.

"Jadi, definisi radikal, Pak Irfan, anti radikal jangan diartikan anti pancasila, Pak, anti sesuatu yang ada gitu lho, Pak, misalnya anti Pak Jokowi gitu Pak, atau anti Pak Ma'ruf Amin, atau anti siapa yang ada, Pancasila enggak ada menurut saya pak, kalau ada, masak iuran kesehatan, kejet kejet, masyarakat diancam enggak boleh perpanjangan SIM, dari mana gitu lho," tambahnya.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini