Begini Kondisi dan Keadaan Pasar Tempo Dulu

Minggu, 05 Desember 2021 21:46 Eris Kuswara Nasional

Begini Kondisi dan Keadaan Pasar Tempo Dulu

 

Koropak.co.id - Pada zaman dahulu, banyak pasar yang berdiri di jalan dan belum menempati ruko atau gedung pasar seperti sekarang ini, contohnya seperti di Pasar Besar yang digelar di sebuah jalan yang dikenal dengan nama Jalan Urip Smoharjo Solo.

Selain itu, di kota-kota lain di Jawa, pada awalnya pasar masih berlokasi di sepanjang jalan sebelum diatur dan los-los dibangun sebagai fasilitas pasar. Namun di sebelah kanan Pasar besar tersebut berdiri barisan los sebelum direnovasi pada tahun 1930.

Olivier Johannes Raap dalam bukunya "Kota Di Djawa Tempoe Doeloe" menuliskan, Pasar Besar atau yang biasa dikenal Pasar Gede itu berlokasi di persimpangan jalan.

"Sekitar tahun 1900-an, jalan yang dijadikan Pasar Besar tersebut belum dijejali dengan barisan ruko Tionghoa. Melainkan masih dinaungo pepohonan rindang di kedua sisinya," tulis Olivier.

Olivier menjelaskan, selain Pasar Besar, ada juga Pasar Lawang yang berada di tepi barat Jalan Raya Malang-Surabaya. Dahulu di tengah Pasar Lawang berdiri los panjang yang berfungsi sebagai tempat pasar yang terbuat dari kayu dengan atap jerami atau alang-alang.

Diketahui kata lawang dalam Bahasa Jawa berarti pintu atau gapura. Karena memang juga kota kecamatan kecil ini sering dianggap sebagai gapura terusan antara Gunung Arjuno dan Gunung Tengger.

Sementara itu, dikarenakan memiliki iklim yang menyenangkan ditambah infrastruktur yang memadai dengan adanya jalan raya dan stasiun kereta api, maka pada awal abad ke-20 kota kecil itu menjadi hunian yang banyak digandrungi penduduk Eropa yang sudah pensiun.

Kini, kondisi jalan itu menjadi empat jalur yang sangat ramai dan pasar tradisional tetap berada di lokasi yang sama. Namun Pasar Lawang sudah menjadi kompleks modern.

Pada zaman kerajaan kuno, kota kecamatan menjadi domisili seorang panji (gelar bangsawan), sehingga membuatnya disebut sebagai Kepanjen. Tercatat sejak tahun 2008, Kepanjen sendiri merupakan ibu kota kabupaten Malang.

Pada abad ke-19, Pasar Kepanjen didirikan dan para pedagang pun mulai berjualan di sepanjang jalan secara berjejeran dengan bangunan nonpermanen. Saat itu pasar sendiri masih berada di Jalan Panarukan, namun pada awal abad ke-20, adanya pembangunan aliran irigasi Kali Molek menyebabkan pasar bergeser beberapa ratus meter ke barat.

 

 

Baca : Begini Sejarah Awal dan Seluk Beluk Pasar


Pada tahun 1926, pasar pun direlokasi ke kompleks Pasar Besar di pecinan yang kini menjadi Jalan Ahmad Yani Malang. Sedangkan di lokasi lama, kini menjadi Pasar Krempyeng atau pasar nonresmi yang dalam waktu singkat akan selesai.

Di Magelang, terdapat Pasar Rejowinangun yang merupakan pasar tradisional dan sudah sejak lama menjadi pasar terbesar dan terlengkap di Kota Magelang.

Berkembangnya pasar disana erat kaitannya dengan 3 hal yaitu keberadaan stasiun kereta api Magelang yang dibangun pada tahun 1898. Kemudian jalan raya serta kedekatannya dengan kawasan pecinan.

Saat itu, disana banyak pedagang yang memilih untuk berjualan di tempat jualan nonpermanen di luar gedung pasar dikarenakan mereka tidak mempunyai tempat tetap atau juga dikarenakan jualannya lebih laku di luar.

Sedangkan di Jakarta, terdapat sebuah pasar yang berlokasi di Glodokplein (Lapangan Glodok) yang kini sudah dibangun penuh dengan kompleks Pasar Glodok.

Dulu, lokasi tersebut merupakan lapangan terbuka dengan los pasar di sekelilingnya. Ternyata sudah sejak tahun 1740-an bahwa Glodok sendiri merupakan sebuah kawasan pecinan di Batavia yang berada di sebelah selatan tembok kota lama.

Menariknya, kawasan Glodok tersebut pernah disebut sebagai 'Monaconya Hindia' oleh Belanda dikarenakan banyaknya rumah judi layaknya seperti di negeri kecil Monaco.

Di Jawa Barat tepatnya di Garut, ada Pasar Garut yang lokasinya berada di kawasan pecinan sekitar 1 kilometer ke timur laut dari alun-alun. Dahulu, keadaan pasar disana cukup terdokumentasi dikarenakan dideskripsikan sebagai tempat wisata yang menarik dalam buku promosi wisata Garoet 1922.

Disana, hari pasar jatuh setiap Selasa dan Sabtu dan sebelum pukul 04.00 WIB, ribuan orang dari desa-desa di sekeliling Garut berbondong-bondong datang untuk berjual beli di pasar. Kini pasar tersebut sudah berubah menjadi Garut Plaza, sementara pasar tradisionalnya di pindahkan ke Pasar Baru di sebelah barat di lokasi yang sama.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait