Mengenal Sejarah dan Asal Usul dari Tari Tradisional Jaipong

Senin, 06 Desember 2021 13:49 Eris Kuswara Nasional

Mengenal Sejarah dan Asal Usul dari Tari Tradisional Jaipong

 

Koropak.co.id - Indonesia memang mempunyai banyak sekali jenis tarian tradisional yang semuanya itu tersebar di seluruh penjuru tanah air. Mulai dari Sabang hingga Merauke, diketahui semuanya mempunyai tarian tradisionalnya masing-masing yang menjadi ciri khasnya.

Salah satu tarian tradisional yang berasar dari Provinsi Jawa Barat yakni Tari Jaipong. Selain itu pada awalnya, tarian jaipong ini berkembang di daerah Bandung dan Karawang.

Dilansir dari gramedia.com, Tarian Jaipong sendiri merupakan tarian gabungan dari sejumlah kesenian tradisional, seperti pencak silat, ketuk tilu dan wayang golek. Mulai dari sanalah tarian ini menjadi populer sebagai tarian yang memiliki gerakan-gerakan yang unik, energik dan sederhana.

Tak hanya energik, tarian jaipong ini juga turut dimainkan dengan suasana yang humoris dan ceria. Oleh karena itulah, tarian ini bisa menghibur para penonton yang menyaksikannya.

Tak jarang juga dari penonton terbawa suasana dan tertawa ketika melihat pertunjukan tarian jaipong itu. Tarian unik yang berasal dari Jawa Barat ini hingga sekarang masih tetap dilestarikan dan dipelajarinya.

Berbicara mengenai sejarahnya, Tari Jaipong ini merupakan sebuah tarian tradisional yang berasal dari daerah Karawang, Jawa Barat yang berkembang di era tahun 1960-an. Pada awalnya tari ini dikenal masyarakat dengan nama Tari Banjet yang merupakan sebuah pertunjukan kesenian tari yang ditampilkan dengan gerakan tari dan diiringi alunan musik berupa instrumen gamelan.

Dahulu, tarian ini sendiri dijadikan sebagai hiburan bagi masyarakat. Tarian jaipong ini juga adalah sebuah inovasi yang dibuat oleh seorang seniman yang berasal dari daerah Karawang bernama H. Suanda yang merupakan salah satu seniman berbakat yang berasal dari daerah Karawang.

Haji Suanda memiliki bakat yang luar biasa serta keahlian dalam menguasai sejumlah kesenian tradisional Indonesia dari berbagai daerah, Terutamanya dari daerahnya sendiri. Tercatat, beberapa kesenian daerah yang dikuasainya yaitu Wayang Golek, Pencak Silat, Ketuk Tilu dan Topeng Banjet.

Haji Suanda pun kemudian membuat sebuah inovasi dengan menciptakan inovasi dengan menggabungkan beberapa macam tarian yang dikuasainya itu menjadi satu. Mulai dari Tari Banjet, Tari Pencak Silat, Tari Ketuk Tilu, Tari Wayang Golek dan Tari Topeng. Hasilnya, dia pun berhasil menciptakan sebuah karya seni daerah yang unik dan digemari oleh masyarakat.

Pada saat pertunjukannya kesenian daerah tersebut digelar, masih belum diberikan nama tari jaipong. Selain itu, iringan musik yang dipakai dalam pementasan itu menggunakan alat musik Gendang, Degung, Gong dan alat musik yang diketuk lainnya. Perpaduan berbagai jenis alat musik itu juga turut melahirkan sebuah musik pengiring tarian yang menjadi sangat energik dan unik.

Selain iringan alat musik, pada setiap pementasan kesenian tari ini juga turut diiringi oleh nyanyian dari seorang sinden. Pertunjukan tersebut, ternyata berhasil menarik perhatian seorang seniman yang berasal dari daerah Sunda bernama Gugum Gumbira untuk mempelajarinya.

Kala itu, Gugum Gumbira sendiri sudah lihai pada tarian ini. Sehingga dirinya pun mendaur ulang semua gerakan pada tarian tersebut hingga pada akhirnya terciptalah sebuah tarian bernama Jaipong. Sejak saat itulah juga tarian ini mulai diperkenalkan oleh masyarakat Bandung.

 

 

Baca : Mengenal Tradisi Cukur Rambut Bayi yang Dikenal Secara Turun Temurun

Sementara itu, dilansir dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Tari Jaipong diciptakan oleh dua orang seniman yang berasal dari Karawang dan Bandung bernama H. Suanda dan Gugum Gumbira pada tahun 1975.

Perhatian H. Suanda dan Gugum Gumbira terhadap kesenian tari daerah adalah salah satunya dengan tari ketuk tilu tersebut. Sehingga hal itu membuat kedua seniman ingin mengenal dan memahami mengenai perbendaharaan pola gerak tari tradisi yang terdapat pada Bajidoran atau Kelingan atau Ketuk Tilu.

Diketahui pola gerak tari tersebut terdiri dari gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan sejumlah variasi gerak mincid. Dari beberapa gerak pada kesenian tari ketuk tilu itu jugalah yang memberikan Suanda dan Gugum inspirasi guna mengembangkan kesenian tari yang saat ini dikenal dengan nama Tari Jaipong.

Meskipun mulai banyaknya hiburan modern yang muncul, namun hingga saat ini kesenian tari Jaipong masih selalu digemari dan menjadi salah satu hiburan yang menarik bagi masyarakat.

Pada tahun 1979, tarian jaipong mengalami perkembangan yang cukup pesat mulai dari pementasan dan properti yang dipakai oleh penari yang memainkan tarian. Mulai dari situlah yang membuat tari jaipong dikenal oleh seluruh masyarakat yang berada di wilayah Jawa Barat seperti di daerah Sukabumi, Cianjur hingga ke Bogor. Bahkan masyarakat yang berasal dari luar Jawa Barat juga mulai mengenalnya.

Tarian ini sendiri mempunyai ciri khas, khususnya pada tarian jaipong gaya kaleran diantaranya humanism, keceriaan, semangat, erotisme, kesederhanaan dan spontanitas. Ciri khas tarian jaipong itu dapat tercermin pada penyajian tariannya yang terdapat pemberian pola atau yang disebut juga dengan nama ibing pola.

Pada umumnya ibing pola dibawakan oleh seorang penari tunggal atau dikenal dengan nama Sinden Tatandakan atau seorang sinden yang tidak bisa menyanyi, akan tetapi menarikan lagu sinden atau istilahnya yaitu Juru Kawih.

Misalnya saja pada seni tari jaipong yang berkembang di wilayah Bandung. Tak hanya itu, iringan alat musik berupa Dengung turut membawa suasana menjadi ceria. Maka tak heran apabila banyak orang yang ikut menari ketika melihat pementasan dari tarian ini.

Tarian Jaipong ini juga memiliki arti bahwa wanita itu tak harus selalu dinilai hanya dari luarnya saja yang didasarkan pada stereotip budaya lama yang sudah melekat pada masyarakat wilayah Indonesia.

Sementara itu dalam perkembangannya, Tari Jaipong berhasil melahirkan para penari yang lihai atau handal. Diantaranya Yeti Mamat, Tatit Saleh, Pepen Dedi Kirniadi dan Eli Somali. Tariannya ini mampu memberikan kontribusi yang cukup besar bagi para pegiat seni, guna lebih sungguh-sungguh dalam memperkenalkan tarian daerah yang kurang mendapatkan perhatian masyarakat.

Mulai dari situlah, kini Tari Jaipong mulai dikenal dan menjadi populer. Dengan kepopulerannya itu, saat ini banyak bermunculan sanggar-sanggar tari yang mengajarkan kesenian tari dengan salah satu tariannya yaitu tarian jaipong.

Biasanya, tari jaipong ini dipentaskan pada beberapa acara penting. Misalnya penyambutan tamu besar yang datang berkunjung ke daerah Jawa Barat dan lain sebagainya. Tarian Jaipong juga memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap kesenian daerah di Jawa Barat seperti pada Genjring, Terbangan, Wayang Dengung dan lainnya.

Tak hanya sampai disitu saja, tarian ini juga pernah dikolaborasikan dengan musik dangdut modern oleh seseorang yang bernama Leni dan Mr. Nur yang lalu dikenal sebagai Pong Dut.

Selain tari jaipong, di tahun 1980 dan 1990-an Gugum Gumbira juga turut mengembangkannya ke dalam jenis tarian lainnya, Seperti Tari Kuntul Mangut, Setra Sari, Rawayan, Toka-toka, Seonteng, Iring-iring Daun Puring, Pencug, dan Kawung Anten.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait