Kaset Kusut

Selasa, 28 Desember 2021 07:12 Redaksi Opini

Kaset Kusut

 

Perjalanan ke luar kota kali ini tak membosankan. Lain dari biasanya. Sebabnya ada seseorang yang menemani. Teman itu adalah... seorang pria. Hehe. Laki-laki kok. Usianya terpaut seperampat abad. Ia salah seorang guru kehidupan saya.

Meski sepanjang jalan basah oleh air hujan yang lumayan deras, suasananya terasa hangat, karena diiringi alunan lagu lawas. Semangatnya jadi senja dan cozy.

Lagu bukan sembarang lagu, tapi lagu syahdu yang membuat hati mendadak rindu pada rasa yang tak pernah bersatu.

“Saya suka lagu ini. Lagu lama yang masih enak didengar dan menyimpan banyak kenangan,” ujar Pak Tatang sembari tersenyum kecil. Kendati tangannya erat memegang setir, tapi bibirnya berkali-kali ikut bernyanyi pelan.

“Bila kamu di sisiku hati rasa syahdu
Satu hari tak bertemu hati rasa rindu”

Pak Tatang tersenyum genit saat ikut bernyanyi lagu itu. Kumisnya yang tebal seolah menari penuh semangat. Wasilah lagu itu, dia sepertinya sedang mengenang masa lalunya yang entah dengan siapa.

Saya tidak berani bertanya. Takut mengganggu kesenangannya yang sedang larut dalam kenangan. Hampir semua lirik lagu “Syahdu” miliknya Bang Haji Rhoma Irama hapal di luar kepala. Terkadang saya juga ikut bernyanyi pas di lirik yang tahu.

Saya pun ikut terlempar ke masa lalu. Tapi bukan soal asmara. Ini tentang pengalaman mendengarkan lagu yang mendadak terganggu karena pitanya kusut. Lagunya jadi ngageol. Begitu kami menyebutnya. Jika sudah begitu, kasetnya harus dikeluarkan dari tape recordernya.

Ambil kasetnya. Ulur keluar pitanya secara perlahan, rapikan, lalu gulung lagi dengan dibantu pulpen atau alat semacamnya. Putar-putar sampai semua pitanya masuk. Cara seperti itu kadang berhasil, kadang juga tidak. Tergantung takdir. Jika masih ada miliknya, kaset bisa diputar normal dan lagunya tidak ngageol.

Tapi bila masih ngageol, lemparkan saja itu kaset dan beli yang baru. Pusing memang. Lagi enak-enaknya dengar lagu, eh pita kasetnya kusut. Memuakkan. Mirip orang-orang yang merasa dirinya tokoh lalu seenaknya bicara ke publik, mengumbar aib yang semestinya ditutup rapat.

Orang-orang yang berkarakter kaset kusut memang suka membuat ribut. Itu cara dirinya bisa terkenal. Kalau sudah dikenal banyak orang, tentu saja itu menjadi investasi sosial yang sangat berharga. Paling tidak bisa dimanfaatkan saat musim pemilu. Minimal jadi calon anggota dewan. Tak heran, setiap ada celah untuk terkenal, dia langsung tampil ke muka.

Memang ada orang yang seperti itu? Bukan ada lagi, tapi banyak. Apalagi di zaman serba digital seperti sekarang. Orang-orang yang lapar popularitas kerap menjadikannya sebagai panggung untuk membesarkan dirinya. Tak peduli apakah caranya akan merusak orang lain atau tidak, yang penting ia bisa tampil dan ditonton banyak orang.

Kesenangan kita saat mendengarkan lagu mendadak terganggu karena kasetnya kusut. Begitupun dengan orang-orang berkarakter kaset kusut. Suka mengganggu ketenangan orang atas dalih yang direka-reka sedemikian rupa, padahal semuanya modus.*

 

Baca : Catatan Redaksi

 


Berita Terkait