Baliho vs Ngabako, Mana yang Lebih Jago?

Rabu, 29 Desember 2021 19:27 Redaksi Opini

Baliho vs Ngabako, Mana yang Lebih Jago?

 

Indonesia darurat sampah. Bukan hanya sampah yang berasal dari kemasan konsumsi sehari-hari atau rumah tangga, tapi juga sampah visual yang meruyak di banyak tempat. Baliho, misalnya.

Hampir di semua tempat ada banyak sampah visual berupa baliho yang diproduksi berbagai kalangan, termasuk politikus. Jika Anda melakukan perjalanan di dalam atau luar kota, siap-siap saja melihat rentetan baliho para pejabat. Mereka berpose dengan aneka slogan merakyat. Bergaya dengan aneka corak dan warna. Tampil dalam berbagai media dan ukuran.

Mereka yang genit seperti itu hampir dipastikan punya ambisi politik. Meski pemilu masih lama, sekitar tiga tahun lagi, mereka sudah pasang muka sedari sekarang. Tujuannya, apalagi kalau bukan popularitas.

Setiap ada momentum, di sana mereka hadir. Tak peduli di tengah bencana atau saat kondisi psikologis masyarakat sedang tidak baik-baik saja, mereka nekad tampil dalam baliho. Meski rakyat tidak suka, sekali baliho terkembang pantang diturunkan lagi.

Ketidaksukaan rakyat itu terekam oleh lembaga Indikator Politik Indonesia. Burhanuddin Muhtadi, sang Direktur Eksekutif, mengatakan, banyaknya baliho yang dipasang oleh politikus tidak otomatis mengerek popularitas dan elektabilitas. Banyaknya foto dalam baliho itu tidak lantas membuat si politikus jago dan bisa menang dalam pemilu.

Duh, ternyata mereka kalah jago oleh para karuhun Sunda yang punya jurus jitu dalam dalam membangun kedekatan dengan rakyat. Jauh sebelum dikenal istilah blusukan, para petinggi kerajaan Sunda sudah menerapkan jurus "Ngabako." Itu dilakukan untuk menyerap aspirasi rakyat yang tanpa sekat.

Dulu, berbagi bako di kalangan masyarakat adalah perkara biasa. Saling berbagi atau mencicipi bakonya masing-masing, sehingga muncul kebersamaan. Dalam ngabako itu terjadi dialog yang dibalut konteks saling memahami.

Di dalam masyarakat Sunda tempo dulu, semenjak kerajaan-kerajaan Sunda mulai berdiri, aktivitas ngadu bako juga sudah dibiasakan. Dulu, para prajurit kerajaan diutus ke berbagai penjuru untuk tinggal bersama rakyat.

Dalam kesempatan itu, salah satu kebiasaan yang dikedepankan adalah ngabako. Bukan hanya berbagi bako atau saling mencicipi tembakau, tapi ada agenda yang lebih penting, yaitu berbagi pandangan secara sederhana dan merakyat.

Tak heran, para prajurit di masa itu tidak hanya dilatih secara militer, tapi juga dituntut memahami keadaan dan mesti pandai menyerap setiap aspirasi rakyat. Semua problem masyarakat dibahas, mulai hal ringan sampai masalah yang dirasa berat. Pembicaraannya semakin meluas dan mendalam terkait hubungan manusia dengan kerajaan atau negara.*

 

Baca : Catatan Redaksi

 


Berita Terkait