Terbentur Lalu Terbentuk

Kamis, 30 Desember 2021 16:15 Redaksi Opini

Terbentur Lalu Terbentuk

 

Ungkapan seorang tokoh revolusioner Indonesia, Tan Malaka, sangat tepat untuk menyikapi kekalahan Timnas Indonesia oleh Thailand, pada laga leg pertama final Piala AFF 2020, Rabu, 29 Desember 2021 malam.

Skor 0-4 jangan berkecil hati. Masih ada kesempatan di lain waktu. Ingatlah Tan Malaka yang pernah berkata, "Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk."

Pria yang punya nama asli Sutan Ibrahim itu seolah bisa memprediksi masa depan bangsa kita. Ia seperti tahu bahwa di dekade ketujuh Indonesia merdeka, pemuda-pemuda kita masih berjuang untuk mengangkat derajat bangsa di kancah dunia, termasuk dalam persepakbolaan.

Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk. Demikian motivasinya agar siapa saja, tak cuma para pemain Timnas, untuk pantang menyerah. Sungguh, siapa saja tidak akan terkalahkan ketika tidak mengenal kata menyerah!

Tiga kali "Garuda" gagal mematuk "Gajah." Sepanjang sejarah piala ASEAN Football Federation (AFF), pertandingan final yang mempertemukan Timnas Indonesia melawan Thailand selalu berakhir kalah.

Sejak turnamen antarnegara Asia Tenggara tersebut pertama kalinya digelar pada 1996, dulu bernama piala tiger, Indonesia sudah bertemu tiga kali dengan Thailand di partai puncak.

Tan Malaka menyebut kata terbentur tiga kali. Kita sudah terbentur tiga kali oleh Thailand. Yakin, sebentar lagi akan terbentuk Skuad Garuda yang kokoh, solid, dan tak terkalahkan.

Lihatlah komposisi pemain kita. Banyak pemain muda mengisi skuad Timnas Indonesia dalam AFF musim ini. Mereka akan menjadi permata beberapa tahun ke depan. Saya sangat meyakini itu.

Kita punya Elkan Baggott yang masih berusia 19 tahun, Witan Sulaeman 20 tahun, Egy Maulana 21 tahun, Rachmat Irianto 22 tahun, dan Asnawi Mangkualam Bahar yang usianya baru menginjak 22 tahun.

Saya bangga dengan perjuangan anak-anak muda mengisi Skuad Garuda. Tetap optimistis menghadapi leg kedua dan perhelatan AFF dan turnamen internasional lainnya. Pemain kita sudah semakin terbentuk.

Pemuda adalah aset terbesar bangsa. Tak ternilai oleh apapun. Sebagai penutup, saya mengutip lagi semangat dari Tan Malaka:

"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda"

 

Baca : Catatan Redaksi

 


Berita Terkait