Cerita Kapuk Jawa yang Berjaya Kuasai Pasar Kasur Dunia

Selasa, 04 Januari 2022 16:15 Eris Kuswara Nasional

Cerita Kapuk Jawa yang Berjaya Kuasai Pasar Kasur Dunia

 

Koropak.co.id - Bagi masyarakat khususnya yang tinggal di Pulau Jawa, tentunya sudah tidak asing lagi dengan yang namanya pohon Kapuk atau pohon Randu.

Ya, selain buahnya dapat dijadikan sebagai bahan pembuatan bantal dan kasur, pohon tersebut juga dapat dijadikan sebagai pertanda bergesernya musim.

Diketahui, jika pohon randu tersebut mulai berbunga, maka itu menjadi pertanda akan hadirnya musim penghujan. Namun jika kulit buah dari pohon itu mulai pecah dan jatuh ke tanah, maka akan menjadi pertanda bahwa musim kemarau segera tiba.

Dilansir dari historyofcirebon.id, pohon Kapuk atau pohon Randu ini merupakan pohon tropis yang tergolong dalam ordo Malvales dan famili Malvaceae yang berasal dari bagian utara Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Karibia.

Berdasarkan sejarahnya, pohon ini dibawa penjajah kolonial Belanda ke Jawa yang kemudian dibudidayakan disana. Bahkan ajaibnya, kapuk yang ditanam di Jawa justru kualitasnya lebih unggul dibandingkan dengan kapuk di tempat asalnya.

Oleh karena itulah, pemerintah kolonial Belanda yang pintar dalam memainkan peluang bisnis, mulai dari tahun 1900-an gencar dalam melakukan budidaya pohon Randu di Jawa dengan lokasi budidayanya yang meliputi Kudus, Pati, Jepara dan beberapa kabuapaten lainnya yang ada di Jawa Tengah.

 

 

Baca : Lima Kebudayaan Indonesia Pernah Diklaim Negara Lain

Pada tahun 1928 hingga 1937-an, pemerintah Kolonial Belanda pun sudah dapat menuai hasil dari budidaya Kapuk Jawa tersebut. Hal itu dikarenakan pada tahun-tahun tersebut, Kapuk Jawa di ekspor ke berbagai negara.

Bahkan Kapuk Jawa juga berhasil memenuhi 85 persen kebutuhan dunia. Sayangnya kejayaan ekspor kapuk Jawa akhirnya harus terbentur dengan meletusnya perang Dunia II.

Ketika Jepang masuk ke Indonesia, khususnya ke pulau Jawa, pohon Kapuk yang sudah dibudidayakan itu diabaikan oleh pemerintah kolonial Jepang. Sehingga pada zaman itu ekspor Kapuk Jawa pun akhirnya mengalami penurunan.

Selepas kekalahan Jepang oleh sekutu dan berdirinya negara Indonesia, kapuk Jawa sendiri sempat meningkat lagi pamornya. Akan tetapi, seiring dengan ditemukannya busa dan pegas sebagai bahan bantal dan kasur, Kapuk Jawa berangsur-angsur kembali menurun pamornya.

Jika pada tahun 1990-an produksi Kapuk di Jawa itu bisa mencapai 80 ribu ton dengan nilai Ekspor 28 ribu ton per tahun, namun pada tahun 2012 ekspor kapuk Jawa benar-benar anjlok dan hanya mampu mengekspor 1.500 ton saja per tahunnya.

Sehingga sejak saat itulah kejayaan Kapuk Jawa betul-betul hilang dan pohon randu yang dahulu banyak dibudidayakan akhirnya ditebangi dan digantikan dengan pohon lain yang lebih tinggi nilai jualnya.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait