Lukamu Lukaku

Rabu, 05 Januari 2022 19:47 Redaksi Opini

Lukamu Lukaku

 

Ini bukan tentang Romelu Lukaku, pemain sepak bola profesional asal Belgia yang sedang trending di jagat media. Lukaku yang itu telah membuat heboh lantaran di akhir 2021 kemarin, curhat merasa tak bahagia di Chelsea dan ingin rujuk lagi bersama Inter Milan.

Sementara lukaku yang ini kurasakan terjadi di awal tahun. Tim Nasional (Timnas) Indonesia yang luar biasa berhasil menahan Thailand 2-2 di leg kedua final Piala AFF 2020, Sabtu 1 Januari 2022.

Kendati kita berhasil menahan imbang, namun masih belum berhasil menjuarai Piala AFF 2020. Kita masih kalah agregat 2-6 karena pertandingan leg pertama lalu.

Lukaku yang kurasakan ini lantaran apresiasi yang tidak adil. Saat timnas menang, banyak orang berkata bahwa kemenannganmu adalah kemenanganku. Kejayaanmu adalah kejayaanku. Namun saat timnas terluka, lukamu adalah lukamu. Bukan lukaku!

Menyesakkan memang. Seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan. Seperti seorang perempuan yang telah memberikan segalanya, namun si pria pergi begitu saja saat tahu perempuannya ada kekurangan.

Sakit memang. Belum lama ada yang mengelu-elukan kehebatanmu. Itu, saat Timnas Indonesia berhasil melangkah ke final Piala AFF 2020 setelah mengalahkan tuan rumah Singapura, Sabtu 25 Desember 2021.

Nyeri memang. Hasil pertandingan laga pertama mulai banyak yang tak nyaring lagi suaranya. Beberapa foto sudah tak dipasang lagi dalam acara nonton bareng atau ucapan selamat dalam beragam desain di media sosial.

Final laga kedua berlangsung. Suara makin kendur. Padahal Timnas sudah berusaha maksimal. Sudah berhasil menahan imbang tim sepak bola yang dianggap paling perkasa di Asia Tenggara.

Sakit dan nyeri. Dunia memang begitu. Tak semua orang siap bersama dalam luka dan kesedihan. Tapi semua orang pasti siap dalam kesenangan dan kemenangan.

Andai cerita berbeda. Jika timnas menang melawan Thailand, mungkin sampai sebulan yang akan datang akan banyak orang yang terus membanggakan. Numpang tenar dengan beragam cara agar memperlihatkan dukungan sebagai suporter yang memiliki jiwa nasionalisme tinggi.

Saya jadi teringat ucapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang mengajarkan tentang persahabatan senasib sepenanggungan. "Jumlah teman yang kamu miliki banyak ketika kamu menghitungnya, akan tetapi itu akan menjadi sedikit ketika kamu sedang dalam masa sulit."

 

Baca : Catatan Redaksi

 


Berita Terkait