Mengenal Sistem Irigasi Tradisional dari Bali yang Diakui UNESCO

Selasa, 11 Januari 2022 07:41 Eris Kuswara Nasional

Mengenal Sistem Irigasi Tradisional dari Bali yang Diakui UNESCO

 

Koropak.co.id - Hingga saat ini, Bali sering disebut-sebut sebagai surganya pariwisata yang sangat terkenal hingga ke mancanegara. Tak hanya berbagai wisata alam yang memukau, Bali juga memiliki wisata kuliner dan budaya yang terkenal unik.

Bahkan diketahui berbagai tradisi budaya yang sudah turun temurun pun hanya bisa ditemukan di Bali. Tercatat, selain budaya dalam hal kesenian, Bali juga memiliki budaya yang sangat mengakar di sistem pertanian tradisionalnya. Sebut saja subak, atau yang dikenal dengan sistem perairan khas Bali.

Dilansir dari berbagai sumber, Subak ternyata bukan sekadar sistem perairan biasa yang digunakan oleh petani tradisional. Ternyata, Subak di Bali memiliki makan dan menyimpan cerita budaya, agama serta mempunyai nilai filosofi yang mendalam.

Subak sendiri berasal dari bahasa Bali yang berarti sealiran. Berdasarkan sejarahnya, Subak sudah dikenal oleh masyarakat Bali sejak tahun 1071 masehi. Selain itu, Subak juga diperkirakan sudah menjadi bagian dari pertanian di Bali sejak tahun 800-an masehi.

Berdasarkan jejak peninggalan Raja Anak Wungsu melalui prasasti Pandak Bandung, Subak disebutkan dengan kata "Suwak". Sementara pada prasasti Banjar Celepik Tojan Klungkung, wilayah Subak pun disebut dengan kata "Kasuwakan".

Sejak zaman dahulu Subak sendiri menjadi satu-satunya sistem perairan bagi sawah-sawah petani terutama di desa Jatiluwih, Tabanan, Bali. Pada sistem Subak, setiap petani nantinya berhak atas bendungan air, parit, dan saluran air dari sumber mata air menuju lahan pertaniannya.

Sementara itu, untuk aturan yang digunakan dalam sistem Subak tersebut berasaskan keadilan. Sehingga setiap petani akan mendapatkan jatah air yang sama berdasarkan luas petak sawah yang dimilikinya masing-masing.

Selain itu, Subak di Jatiluwih sendiri memiliki luas lebih dari 400 hektar dan dikelola oleh 1.200 petani. Selain sebagai sistem perairan yang dinilai paling adil, Subak itu juga menggambarkan kehidupan masyarakat Bali yang damai, rukun dan saling bergotong royong.

 

 

Baca : Gerakan Kembalikan Baliku Jadi Misi Melestarikan Budaya Bali

Jika berkunjung ke subak, maka kalian akan disuguhi pemandangan terasiring sawah yang belekuk-lekuk, luas dan berbukit-bukit. Sehingga tidak mengherankan jika subak itu juga menjadi salah satu destinasi wisata alam yang banyak diminati oleh wisatawan.

Tak hanya itu saja, Subak juga merupakan refleksi dari filosofi Bali kuno yakni Tri Hita Karana yang berarti tiga penyebab kesejahteraan.

Berdasarkan filosofi tersebut, Subak pun menggambarkan hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan harmonis sesama manusia dan hubungan manusia dengan alam atau lingkungannya.

Dalam mewujudkan hubungan antara manusia dan Tuhan, maka masyarakat bali membangun pure kecil di setiap sudut Subak dan di sekitar sawah. Sementara itu, dalam mewujudkan hubungan manusia dengan sesamanya, diwujudkan dengan sistem gotong royong antar petani dalam membangun dan mengelola Subak.

Sedangkan dalam mewujudkan hubungan manusia dengan lingkungan, diwujudkan dengan kegiatan petani yang harus bermanfaat untuk lingkungan, tanpa merusak alam dan memberikan dampak yang baik bagi lingkungan.

Seperti sistem terasiring yang dibangun dengan tujuan untuk menjaga lingkungan agar tidak longsor dan memudahkan kebutuhan masyarakat dalam melakukan berbagai upacara adat. Nilai budaya dan filosofi Subak inilah yang membuatnya berbeda dari sistem irigasi lainnya.

Selain itu juga, berkat nilai budaya dan manfaatnya bagi masyarakat, Subak pun diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia sejak tahun 2012. Bagi masyarakat Bali, Subak juga merupakan tradisi turun temurun yang mampu menjaga keselarasan alam dan manusia.

Sehingga, hal inilah yang membuat Subak yang berada di Jatiluwih ditetapkan sebagai warisan dunia bidang Cultural Landscape pada sidang UNESCO ke-36 yang berlangsung di St Petersburg, Rusia pada 29 Juni 2012 lalu.

Tak hanya itu saja, ternyata Google Doodle juga pernah menampilkan Subak di Bali, lo. Tercatat, Google Doodle yang ditampilkan pada 29 Juni 2020 tersebut bertujuan untuk memperingati ditetapkannya Subak sebagai warisan budaya dunia.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait