Asal Muasal Soto, Makanan Khas Rakyat Indonesia Zaman Kolonial Belanda

Selasa, 11 Januari 2022 12:46 Eris Kuswara Nasional

Asal Muasal Soto, Makanan Khas Rakyat Indonesia Zaman Kolonial Belanda

 

Koropak.co.id - Siapa yang tak kenal dan suka dengan Soto? Karena, hampir seluruh masyarakat di Indonesia suka dengan makanan tradisional yang satu ini.

Terbukti, 70 jenis soto tersebar di Indonesia dan setiap daerahnya juga pastinya memiliki ciri khas soto yang berbeda. Mulai dari yang menggunakan kuah kaldu bening, kuah kuning hingga kuah yang dicampur dengan santan atau susu.

Namun, apakah benar soto ini adalah masakan asli Indonesia? Atau, ada pengaruh negara lain dalam terciptanya resep-resep soto di Indonesia?

Dilansir dari berbagai sumber, hingga kini darimana soto itu berasal masih simpang siur. Hal itu dikarenakan tidak adanya catatan atau bukti nyata bahwa soto sendiri merupakan makanan khas yang berasal dari daerah di Indonesia sejak zaman dahulu.

Selain itu, tidak dapat dipungkiri juga bahwa berbagai macam jenis soto itu berasal dari akulturasi budaya asing dengan Indonesia.

Denys Lombard dalam bukunya 'Nusa Jawa : Silang Budaya di jilid II' menuliskan bahwa soto merupakan makanan Cina yang bernama caudo atau jao to.

Pernyataan tersebut pun kemudian diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Ary Budiyanto dan Intan Kusuma yang berjudul ‘Menyantap Soto Melacak Jao To’.

Berdasarkan hasil penelitiannya tersebut, soto merupakan makanan yang berasal dari Cina dengan sebutan cau do, jao to, atau chau tu dan diketahui, arti dari nama tersebut adalah jeroan dan rempah-rempah.

Soto sendiri pertama kalinya diperkenalkan pada awal abad ke-19 di pesisir pantai utara Jawa. Bentuknya adalah makanan berkuah yang didalamnya terdapat potongan daging dan jeroan.

Dalam buku Nusa Jawa juga mengungkapkan bahwa pada abad ke-18, telah banyak imigran Cina yang datang ke pesisir utara Jawa dan mereka membuka banyak rumah makan sebagai usaha.

Selain itu, meningkatnya jumlah imigran dari Cina juga membuat mereka pada akhirnya mendominasi wilayah saat itu. Kemudian pada saat itulah jao to mulai diperkenalkan kepada masyarakat pribumi.

Kebiasaan orang Cina yang sering menggunakan daging babi dalam jao to pun kemudian diubah dan menyesuaikan dengan masyarakat yang sudah banyak beragama islam. Sehingga, isian jao to diubah menjadi daging sapi, kerbau dan juga daging ayam.

 

 

Baca : Sejarah Bakpia Yogyakarta, Hasil Akulturasi Perpaduan Dua Budaya

Soto juga mengalami perkembangan di Nusantara tepat ketika penjajahan Belanda berlangsung. Pada masa itu, rakyat pribumi selalu mengkonsumsi soto yang memiliki isian dari jeroan, dan pantang masuk ke dapur Belanda. Alasannya, bagi para penjajah, jeroan bukanlah makanan yang dapat dikonsumsi.

Bahkan para bangsawan Belanda juga menganggap jeroan adalah makanan yang tidak sehat bahkan higienis. Akibatnya, hanya rakyat jelata saja yang mengkonsumsi soto sebagai makanan sehari-hari. Disisi lain, rakyat tidak menggunakan sendok untuk mengkonsumsinya.

Sementara itu, ada berbagai jeroan sapi yang dimasukan ke dalam soto pada masa itu, seperti babat dan iso. Jeroan sendiri menjadi isi dari soto karena harga daging kala itu sangatlah mahal, sehingga hanya jeroan saja yang harganya terjangkau.

Disisi lain, ada pula yang meyakini bahwa soto bukanlah dari Cina namun berasal dari India. Mengapa? Alasannya adalah perbandingan cita rasa jau to yang berasal dari Cina itu tidak mirip dengan rempah-rempah seperti yang ada pada soto saat ini. Sebab, masakan Cina biasanya tidak menggunakan banyak rempah namun lebih banyak memanfaatkan minyak.

Mengapa India dipercaya sebagai asal mula ditemukannya soto? Hal ini pun bisa dilihat dari jenis soto Madura yang mirip dengan Sothi Madurai.

Sothi sendiri merupakan sup kare ringan berasal dari Madurai,Tamil Nadu dan perbedaan utama antara soto Madura dengan Sothi Madurai adalah bahan utamanya yaitu daging.

Orang India diketahui tidak menggunakan daging sapi seperti yang ada dalam soto Madura. melainkan mereka menggunakan sayuran atau ikan. Sothi juga dijual banyak di Malaysia dan saat ini dengan isian ikan sehingga nama makanan ini pun disebut Fish Sothi.

Berbicara mengenai jenis-jenis soto, apabila di totalkan, varian soto dari masing-masing daerah itu bisa mencapai 70 jenis. Perbedaan rasa soto hingga penyebutannya juga merupakan perkembangan dari resep aslinya baik itu yang berasal dari Cina atau India.

Meskipun belum ada gambaran bagaimana resep asli dari Jao To itu sendiri, akan tetapi hasil perkembangannya bisa dinikmati saat ini oleh masyarakat Indonesia.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini