Pedagang Keliling Zaman Dulu Bagi Turis Dianggap Restoran Berjalan

Rabu, 12 Januari 2022 07:50 Eris Kuswara Nasional

Pedagang Keliling Zaman Dulu Bagi Turis Dianggap Restoran Berjalan

 

Koropak.co.id - Pada tahun 1800-an, seorang pengusaha cerutu sekaligus wisatawan Belanda, Justus van Maurik melakukan perjalanan wisata dan membagikan pengalaman kuliner saat berkunjung ke Jawa.

Dia pun menceritakan bahwa pada masa itu banyak sekali para penjual makanan di warung pinggir jalan yang menjual nasi, sayur dan ikan goreng (gebakken vischjes) serta dibungkus daun pisang (pisang-bladeren).

Maurik juga turut menceritakan bahwa dirinya kala itu bertemu dengan penjual makanan keliling yang lezat berkebangsaan Tionghoa yang berjualan dengan pikulan dan makanan yang dijajakannya saat itu disebut dengan kimlo atau sop tjina.

Diperkampungan orang Tionghoa juga dijumpai bermacam-macam warung kecil namun cukup lengkap. Disana mereka menjual berbagai hidangan mulai dari nasi, ikan goreng dan asap, dendeng, sambal, kopi,buah-buahan, kembang gua (buatan pabrik Tionghoa, aneka kue, rokok lintingan sendiri, kelapa, bermacam-macam pisang hingga minuman tuak.

Dalam buku 'Tiktik Balik Hostoriografi di Indonesia' yang disunting Djoko Marihandono dalam bab 'Kuliner dalam Pariwisata Kolonial di Hindia Belanda' Achmad Sunjayadi, di lokasi itu bermacam-macam sirup rasa buah-buahan dalam botol.

"Maurik pun berpendapat bahwa orang Tionghoa adalah peniru terbaik untuk minuman-minuman Eropa. Maurik juga mengatakan bahwa hidangan Tionghoa yang paling disukainya adalah kimlo dan bami yang dinikmatinya di roemah makan di daerah Glodok," tulisnya.

Menurut Maurik, Bami merupakan hidangan dari sejenis makaroni tipis dengan berbagai macam bumbu. Kemudian ditambah dengan kuah kaldu yang dicampur jamur, hati ayam, lada, irisan bawang, potongan daging babi atau paha kodok (Maurik 1897:114).

 

Baca : Mengintip Peran Kuliner dan Pariwisata Zaman Belanda


Tak hanya itu saja, Maurik juga mengaku apabila dirinya mengingat hotel-hotel di Hindia, maka dia akan teringat pada kopi dan pisang yang lezat, harumnya buah nanas dan terasi.

Sementara itu, Augusta de Wit yang mengunjungi Jawa pada akhir tahun 1890-an juga memiliki kesan tersendiri terkait dengan warung di pinggir jalan. Tak hanya itu saja, dia juga bahkan mengamati bagaimana para penduduk pribumi (Orang Jawa) menikmati sarapan paginya di warung itu setelah mandi di kali atau sungai.

De Wit juga turut menunjukkan lokasi warung penjual makanan tersebut yakni di daerah Tanah Abang dan Koningsplein (Kini Jalan Medan Merdeka atau Monas) yang merupakan daerah dihuni oleh penduduk pribumi.

Melalui pengamatannya, para pedagang itu menjual nasi, ikan asin dengan sambal, kue hijau yang diberi parutan kelapa berwarna putih, berbagai macam kue yang tampak terasa manis berwarna mencolok mulai dari oranye, merah jambu dan coklat tua.

Para pedagang tersebut sebagai restoran berjalan atau dapur berjalan serta dianggap cukup eksotis dan dapat menarik minat para turis. Oleh karena itulah, ada berbagai jenis penjual makanan keliling yang dimuat dalam kartu pos pada masa itu.

Seperti kartu pos bergambar penjual nasi keliling yang sedang dikerumuni para pembelinya, penjual soto keliling yang berpose dengan pikulannya hingga suasana warung pinggir jalan di Jawa dengan dapur terbuka dan berbagai macam penganan yang ditampilkan dalam kartu pos berangka tahun 1904.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait