Mengintip Simbol Pembentukan Alam Semesta dari Karinding

Rabu, 12 Januari 2022 15:13 Eris Kuswara Nasional

Mengintip Simbol Pembentukan Alam Semesta dari Karinding

 

Koropak.co.id - Alat musik tradisional Indonesia tentunya sangatlah beragam dengan ciri khas dan keunikannya masing-masing. Salah satu alat musik tradisional yang ada di Nusantara dan menarik untuk dibahas adalah Karinding.

Diketahui, di beberapa wilayah di Indonesia, alat musik ini dimainkan dengan sebutan yang berbeda-beda. Namun Karinding sendiri lebih dikenal sebagai alat musik khas dari Sunda Jawa Barat.

Dengan bentuknya yang kecil dan juga sederhana, membuat alat musik yang satu ini pun masuk ke dalam jenis idiofon atau lamelafon.

Berdasarkan sejarahnya, Karinding ternyata sudah hadir sejak enam abad yang lalu dan alat musik tradisional ini juga memiliki usia yang lebih tua dari alat musik kecapi.

Dilansir dari berbagai sumber, pada zaman dahulu, Karinding sendiri sering digunakan sebagai perlengkapan upacara adat atau ritual. Meskipun begitu, di masa sekarang pun masih ada yang menggunakan alat musik tersebut untuk mengiringi pembacaan rajah.

Karinding terbagi ke dalam tiga ruas, yang pada bagian ruas pertamanya berada di ujung yang digunakan untuk mengetuk agar memperoleh resonansi pada bagian tengah.

Kemudian ada bagian ruas tengah yang memiliki guratan dan akan bergetar saat diketuk oleh jari. Terakhir, ada ruas ketiga pada bagian kirinya yang dijadikan sebagai pegangan.

Untuk dapat memperoleh suara yang indah, maka Karinding pun harus ditiup dan dikombinasikan dengan diketuk atau ditepuk pada bagian tengahnya. Selain itu, diketahui juga bahwa suara yang dihasilkan dari alat musik ini pun tergantung dari olahan rongga mulut, lidah dan napas.

Karinding juga mengenal gender dan karinding yang digunakan perempuan itu terbuat dari bambu dengan bentuk seperti susuk sanggul yang dapat disimpan dengan cara disisipkan pada sanggul.

 

 

Baca : Kujang Pusaka dan Lambang Keagungan

Kemudian untuk karinding laki-laki terbuat dari pelepah kawung yang berukuran lebih pendek. Alat musik tersebut juga dapat disimpan di tempat tembakau atau rokok.

Pada umumnya, Karinding mempunyai panjang 10 centimeter dan lebar 2 centimeter. Namun hal itu juga tergantung dengan fungsi pemakaiannya, sebab ukuran yang berbeda dapat mempengaruhi bunyi yang nantinya akan dihasilkan.

Sementara itu, perbedaan cara mengetuknya juga bisa menghasilkan bunyi yang berbeda pula. Bahkan dari sebuah alat musik yang sederhana ini, bisa memperoleh bunyi yang berbeda seperti bass, gong, saron bonang, kendang dan melodi.

Konon, Karinding juga berfungsi sebagai pemikat hati pasangan. Sebab di masa itu, Karinding telah diperkenalkan sejak anak-anak sebagai alat permainan dan saat sudah beranjak remaja, antara laki-laki dan perempuan saling sahut-menyahut dengan nada yang khusus.

Kemudian setelah menikah, alat musik tersebut juga dapat digunakan guna membantu petani dalam mengusir hama. Menurut filosofinya, Karinding sering dianggap simbol tentang alam semesta, lingkungan, dan juga spiritual.

Cara membunyikan Karinding dengan cara ditabuh dan diketuk juga menyimbolkan teori pembentukan alam semesta. Kemudian getaran alat musiknya juga menggambarkan sebuah tanda kehidupan, termasuk dengungan suara yang dihasilkan alat musik tersebut.

Dalam bentuknya yang sederhana, Karinding dianggap sebagai arahan untuk tetap yakin, sabar dan sadar. Saat memukul atau mengetuk alat musik itu harus yakin dan sabar, sehingga nantinya dapat menimbulkan bunyi atau suara serta menyadari bahwa suara yang keluar itu merupakan suara alat musik dan bukan suara kita.

Di dalam Karinding juga terdapat pula norma-norma ketuhanan, kemanusiaan, kemasyarakatan, hukum waktu, hukum menetapkan kenegaraan serta menentukan demografi kependudukan.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait