Mengenal Lebih Dekat Penghargaan Kalpataru

Kamis, 13 Januari 2022 15:49 Redaksi Nasional

Mengenal Lebih Dekat Penghargaan Kalpataru

 

Koropak.co.id - Tahun 1988 Tasikmalaya harum seantero bumi Nusantara. Ada seorang tua yang berjasa menjaga alam lingkungan.

Ia perkasa. Keyakinannya tangguh seperti mega baja. Seorang perempuan sepuh bernama Mak Eroh. Tinggal di Kampung Pasirkadu Desa Santana­mekar Kecamatan Cisayong Kabupaten Tasikmalaya.

Jasanya sangat besar. Tekadnya bulat dan kemudian dibuktikan dengan kesungguhan menggali saluran air sejauh 5 km, menembus lereng Gunung Galunggung hingga mengalir ke perkampungan.

Maka di tahun itu, Mak Eroh diganjar oleh penguasa order baru kala itu, Presiden Soeharto, dengan Penghargaan Kalpataru. Inilah anugerah yang diberikan kepada sosok-sosok luar biasa yang mengabdikan hidupnya untuk upaya pelestarian dan penyelamatan lingkungan tanpa pamrih.

Tentang Penghargaan Kalpataru ini, laman Indonesia.go.id menulis, pialanya berwarna keemasan dan berbentuk akar mirip bola sepak. Uniknya, akar ini tumbuh pada bagian atas dan bawah.

"Benda ini adalah sebentuk penghargaan yang diberikan pemerintah kepada orang atau kelompok masyarakat karena jasanya terhadap pelestarian lingkungan di Indonesia. Benda ini bernama Kalpataru," tulis laman itu.

Muasal kata Kalpataru, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ‘pohon kehidupan’ atau ‘Kalpavriksha’. Mirip dengan spriritnya tentang alam dan kemudian diterjemahkan dalam bentuk fisik penghargaan yang sangat memesona.

Penghargaan Kalpataru diberikan pertama kali pada 1980 oleh Presiden Kedua RI Soeharto di Istana Negara. Saat itu, penghargaan ini diberi nama "Hadiah Lingkungan" dan baru setahun kemudian namanya berganti menjadi Kalpataru.

Selama 40 tahun penghargaan ini diberikan pemerintah, sudah ada 388 pihak yang pernah menerimanya. Mereka terdiri dari 114 penerima untuk kategori Perintis Lingkungan, 116 penerima kategori Penyelamat Lingkungan, 99 nama untuk kategori Penyelamat Lingkungan. Terakhir adalah 59 nama untuk Kalpataru kategori Pembina Lingkungan.

 

 

Baca : Kado HUT Kota Tasikmalaya Ke-20, 10 Penghargaan Sepanjang 2021

Dalam perjalanannya terdapat sejumlah nama yang begitu mengabdikan diri bagi pelestarian lingkungan. Sebut saja Nyi Eroh asal Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia merupakan perempuan pertama penerima Kalpataru kategori Perintis Lingkungan pada 1988.

Ia berjuang seorang diri membangun saluran air sepanjang 5 kilometer untuk menyelamatkan pasokan air bagi 60 hektar persawahan di tiga desa. Tak hanya itu, atas jerih payahnya, puluhan keluarga pemilik lahan sawah tadi berhasil menikmati pasokan air sepanjang tahun.

Ada juga nama Soleman Ngongo yang telah mengabdikan diri selama 40 tahun menjaga dan merawat 240 pintu air primer, 140 pintu air sekunder, dan 160 pintu air tersier di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.

Tak hanya itu, meski penghasilannya sangat minim sebagai penjaga pintu air, Soleman masih menyempatkan diri menanam pohon-pohon untuk reboisasi hutan di wilayahnya. Ia mendapatkan Kalpataru kategori Pengbdi Lingkungan pada 2011 di Istana Negara.

Terdapat pula nama pakar primata dunia asal Kanada, Birute Marija Filomena Galdikas yang selama 51 tahun bergulat meneliti dan melakukan konservasi terhadap orangutan Kalimantan, salah satu satwa maskot Indonesia.

Ia pertama kali meneliti orangutan Kalimantan di Cagar Alam Tanjung Puting, Kalimantan Tengah pada 1971, bersama Rod Brindamour, seorang fotografer. Upaya-upaya penelitian, penyelamatan, dan pelestarian primata jenis kera besar ini membawanya menerima Kalpataru kategori Pembina Lingkungan pada 1997.

Untuk 2020, pemerintah memberikan Kalpataru bagi 10 tokoh dan kelompok masyarakat karena keberhasilannya dalam melestarikan lingkungan.

"Kita bersyukur karena masih memiliki pejuang-pejuang lingkungan yang mengabdikan hidupnya untuk melestarikan lingkungan hidup dan kehutanan," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Siti Nurbaya menilai, melalui Kalpataru ini masyarakat dapat melihat contoh nyata yang telah ditunjukkan oleh para pejuang lingkungan. Peran mereka telah memberikan dampak bagi kelanjutan ekologi, sosial, dan kesejahteraan masyarakat.

Bagi sosiolog Imam Prasodjo, para penerima Kalpataru merupakan sosok luar biasa karena mampu keluar dari zona nyaman untuk menemukan solusi melestarikan alam.

"Mereka adalah sosok-sosok yang berani mendobrak pakem, menjadi pendorong tumbuhnya harapan positif di tengah situasi sulit saat ini. Kita sangat membutuhkan orang-orang seperti mereka di negeri ini," kata anggota Dewan Pertimbangan Penghargaan Kalpataru.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait