Teknologi Kriya Logam, Potret Warisan Budaya Dari Jawa Tengah

Jum'at, 14 Januari 2022 07:53 Redaksi Nasional

Teknologi Kriya Logam, Potret Warisan Budaya Dari Jawa Tengah

 

Koropak.co.id - Ulama nyentrik yang karib disapa Gus Muwafiq sering menyampaikan hal ini. Tentang kehebatan leluhur nusantara yang sudah menerapkan teknologi tinggi dalam peradaban zaman dahulu.

Dalam sebuah kesempatan ceramah di Istana Negara, di depan jajaran kabinet Presiden Joko Widodo, Gus Muwafiq atau KH Ahmad Muwafiq mengatakan tentang kekayaan negara Indonesia ini.

Kekayaan alam, kekayaan budaya, adat, tradisi, suku, bahasa, dan berbagai kekayaan minyak dan logam ada di bumi nusantara ini. Semua potensi yang dimiliki ini sebanding dengan kehebatan sumber daya manusia leluhur kita.

"Logam paling kuat bisa diolah masyarakat Indonesia dengan suhu 15 ribu derajat yang berbentuk senjata hingga musik gamelan di saat negara lain belum memilikinya," katanya.

Apa yang disampaikan ulama sekaligus budayawan itu memang benar adanya. Kehebatan nenek moyang kita dalam mengolah logam menjadi aneka kerajinan sudah tidak diragukan lagi.

Salah satunya dibeberkan dalam buku berjudul, "Jawa Tengah Sebuah Potret Warisan Budaya". Buku ini diterbitkan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (Prof. Sumijati Atmosudira dkk /editor).

Dilansir dari laman kebudayaan.kemdikbud.go.id, disebutkan bahwa berdasarkan temuan arkeologis yang diperoleh di Jawa Tengah, diketahui bahwa jenis logam umum digunakan untuk berbagai benda adalah perunggu, besi, emas dan perak. Namun, dalam sumber-sumber tertulis pada masa Jawa Kuno disebutkan pula adanya Pande Tamwaga (Orang yang membuat benda-benda dari tembaga) dan Pande Gangsa (Orang yang membuat benda-benda dari kuningan).

 

Baca : Mengenal Pewter Bangka, Seni Kriya Timah yang Melimpah


Selain pande tamra (Perunggu), pande wsi (besi), pande mas (Emas), serta pande pirak (Perak). Dengan demikian, berarti logam tembaga dan kuningan sebenarnya juga sudah dikenal, tetapi mungkin tidak populer, dan temuannya juga baru dikenal pada masa Jawa Kuno.

"Bukti lain bahwa tembaga sebenarnya sudah dikenal adalah melalui penggunaan perunggu, karena perunggu merupakan logam campuran antara tembaga dan timah," tulis laman tersebut.

Bukti arkeologis di Indonesia menunjukan bahwa perunggu merupakan jenis logam tertua dan paling banyak digunakan. Akan tetapi, kemungkinan besar penggunaannya bersamaan pula dengan penggunaan besi, sehingga dikenal istilah jaman perunggu-besi, untuk menyebut masa logam awal di Indonesia.

Penggunan logam emas kemungkinan juga sama tuanya dengan penggunaan perunggu. Akan tetapi karena emas hanya digunakan secara terbatas, yaitu hanya untuk benda-benda yang mempunyai nilai simbolik-religius, maka emas tampak muncul lebih kemudian dari pada perunggu.

 

 

"Pada masa klasik, hanya logam emas, perak, dan perunggu saja yang digunakan untuk bahan pembuat arca. Logam yang lain, misalnya kuningan, tembaga, dan besi banyak digunakan untuk berbagai macam benda, selain arca."

Bahan logam yang digunakan dapat berupa biji logam ataupun materi daur ulang, yaitu benda logam yang sudah tidak terpakai dilebur atau ditempa kembali untuk dibentuk menjadi benda baru. Beberapa sumber menyebutkan bahwa bahan-bahan logam tersebut diperdagangkan dalam bentuk ingor hasil cetakan biji logam sesudah dilebur.

Ingor tersebut berbentuk dan sebesar kancing. Akan tetapi sumber-sumber tertulis masa Jawa Kuno menyebutkan bahwa bahan logam emas diperdagangkan dalam bentuk serbuk, cairan ( mas drawa, mas ajur, tatur, hema drawa, kanaka drawa ), atau lembaran (pattra, parada, parahos).

 

Baca : Mengenal Lebih Dekat Penghargaan Kalpataru

Secara garis besar teknik pembuatan benda-benda logam dapat dibedakan menjadi teknik cetak dan teknik tempa. Terdapat dua jenis teknik cetak benda logam, yaitu dengan menggunakan cetakan dan dengan menggunakan model lilin.

Teknik cetak dengan menggunakan cetakan, baik cetakan tunggal (single mould) maupun cetakan setangkup (bivalve), digunakan untuk membuat benda-benda logam yang memerlukan detail rumit, misalnya arca logam.

Teknik tempa digunakan untuk membuat peralatan logam yang masif dan mempunyai bagian yang tajam, contohnya senjata dan peralatan pertanian.

Teknik lain yang dikenal dalam pembuatan benda-benda logam adalah yang disebut reasing, yaitu teknik yang digunakan untuk membuat benda logam yang dibentuk dari lembaran metal. Caranya adalah dengan membentuk lembaran logam, misalnya dari emas atau perak, dengan cara menekan dan memukul secara lembut lembaran tersebut sampai bentuk yang dikehendaki diperoleh.

Selain teknik pembentukan benda logam, juga dikenal beberapa teknik menghias benda logam, yaitu yang disebut flat chasing, embossing, serta granulating. Flat Chasing merupakan teknik membut dekorasi pada lembaran logam dengan menggunakan alat gores semacam paku halus dan palu.

Palu dipukulkan pada alat gores untuk menghasilkan luka pada lembaran logam dengan pola seperti yang diinginkan. Emborsing adalah teknik membuat hiasan timbul pada benda logam, sedangkan granulating adalah teknik membuat dekorasi pada benda logam dengan cara menempelkan butiran-butiran logam.

Teknik yang digunakan untuk menempelkan butiran-butiran tersebut dengan cara dipatri. Selain patri, cara penyambung logam juga dapat dilakukan dengan teknik castingon, yaitu cara menyambung logam dengan cara memanaskan kedua bagian yang hendak disambung.

"Dalam kondisi yang masih panas, bagian yang hendak disambung saling ditempelkan, dan ketika dingin kedua bagian tersebut akan menyatu."

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini