Berkenalan dengan Oei Tiong Ham, Juragan Gula Asia Tenggara Jamannya Belanda

Jum'at, 14 Januari 2022 19:28 Eris Kuswara Nasional

Berkenalan dengan Oei Tiong Ham, Juragan Gula Asia Tenggara Jamannya Belanda

 

Koropak.co.id - Pada masa penjajahan terdahulu, ternyata gula pernah menjadi salah satu komoditas unggulan di bumi Nusantara.

Diketahui, setelah mengalami penurunan harga secara drastis, posisi Pulau Banda Neira sebagai penghasil rempah utama di dunia akhirnya tergeser oleh Pulau Jawa yang pada saat ini memiliki peran sebagai salah satu penghasil gula terbaik.

Tercatat, pada rentang tahun 1800 hingga 1930-an, gula berhasil menjadi produk olahan alam yang terpenting di dunia dan salah satu raja gula saat itu adalah seorang Tionghoa bernama Oei Tiong Ham.

Dilansir dari kebudayaan.kemendikbud.go.id, kesuksesan pria yang lahir pada 1866 sampai dengan 1924-an ini berasal dari sang ayah, Oei Tjie Sien yang pada masa itu memiliki perusahaan Kian Gwan.

Tercatat, Oei Tiong Ham berhasil menjadi proklamator Oei Tiong Ham Concern (OTHC) yang dikemudian hari menjadi salah satu perusahaan terbesar di Asia.

Dengan kantornya yang berpusat di Semarang, Oei Tiong Ham semakin melebarkan sayap bisnisnya hingga ke beberapa negara di dunia mulai dari Hongkong, London, hingga New York.

Bahkan, dalam Koran De Locomotief, pernah menyebutkan bahwa Oei Tiong Ham sebagai 'orang terkaya di antara Shanghai dan Australia'.

Oei Tiong Ham sendiri diketahui memulai bisnis pertamanya dengan hasil bumi, seperti kopi, karet, kapuk, gambir, tapioka, serta opium.

Bisnisnya tersebut mulai berkembang pesat ketika Oei Tiong Ham berhasil mengakuisisi 5 pabrik gula yang akan bangkrut, yaitu pabrik gula Pakis di Pati, Rejoagung di Madiun, Ponen di Jombang, Tanggulangin di Sidoarjo dan Krebet di Malang.

 

 

Baca : Cerita Kapuk Jawa yang Berjaya Kuasai Pasar Kasur Dunia

Sementara itu, dilansir dari goodnewsfromindonesia.id, pada tahun 1920, Oei Tiong Ham memutuskan untuk pindah ke Singapura dikarenakan pada saat itu kondisi Indonesia khususnya Kota Semarang kurang kondusif.

Selain itu, keputusan ini diambilnya karena merasa tidak tahan dengan beban pajak yang dikenakan oleh Pemerintah Belanda pada masa itu.

Saat pindah ke Singapura, Oei Tiong Ham berhasil menguasai seperempat bagian luas wilayah di sana dan kekayaannya kala itu berupa kepemilikan tanah dan rumah.

Maka tidak mengherankan di Kota Singa, masih ada satu jalanan yang memakai nama Oei Tiong Ham Park. Sayangnya setelah empat tahun kepindahannya ke Singapura, dia meninggal dunia akibat menderita penyakit jantung.

Pasca meninggalnya Oei Tiong Ham, kendali atas Oei Tiong Ham Concern pun dipegang oleh salah seorang putranya, Oei Tjong Hauw. Namun baru sebentar memegang perusahaan sang ayah, Oei Tjong Hauw justru meninggal dunia secara mendadak akibat serangan jantung.

Meninggalnya Oei Tjong Hauw ini tentunya merupakan awal dari proses kemunduran Oei Tiong Ham Concern sebagai sebuah institusi bisnis hingga pada akhirnya Oei Tiong Ham Concern bangkrut pada tahun 1964, tatkala seluruh asetnya pun disita oleh Pemerintah Indonesia.*

Selain itu juga, jejak peninggalan Oei Tiong Ham Concern sendiri masih dapat dijumpai di kawasan Kota Lama Semarang. Setidaknya terdapat 3 bangunan eks-kantor OTHC, mulai dari yang terletak di Jalan Kepodang Nomor 25, di sudut pertemuan antara Jalan Kepodang dan Jalan Suari dan di Jalan Kepodang Nomor 11–13.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait