Kisah Ikan Gurami dan Es Batu Jadi Barang Super Mewah

Sabtu, 15 Januari 2022 07:41 Eris Kuswara Nasional

Kisah Ikan Gurami dan Es Batu Jadi Barang Super Mewah

 

Koropak.co.id - Bagi orang Jawa, ikan gurami atau disebut juga gurame merupakan salah satu hidangan yang sangat lezat hingga saat ini.

Louis Couperus yang saat itu berkunjung ke wilayah Jawa Barat tepatnya di daerah Cipanas yang terkenal dengan pemandian air panasnya disuguhi hidangan ikan gurami yang lezat dan dipelihara di kolam primitif berbentuk persegi.

Saking lezatnya, hidangan ikan gurami ini sampai diekspor ke luar negeri contohnya seperti hadir dalam Exposition Universelle (Pameran Dunia) pada tahun 1899 di Paris Prancis.

Kala itu, khusus bagi para pengunjung pamerandu paviliun Hindia Belanda sekitar pukul 6 sore akan disuguhi rijsttafel dengan lauk yang dihidangkannya antara lain ikan gurami dan dendeng rusa seharga 6 frank (Bloembergen 2004:134).

Dilansir dari buku 'Titik Balik Historiografi di Indonesia' yang disunting Djoko Marihandono' menuliskan, saat es batu belum sebanyak saat ini dan menjadi barang mewah di Hindia, membuat pemerintah Hindia Belanda pun harus mengimpor es dari luar negeri.

"Seorang Juru Masak Hotel de Provence (cikal bakal dari Hotel des Indes) Etienne dan juga puteraSurleon Antoine Chaulan menjadi orang yang mengusulkan sajian es batu kepada para tamu," tulisnya.

Sehingga Etienne pun harus mengimpor es dari luar Hindia (terutama di Amerika Utara) dikarenakandi Batavia sendiri kala itu belum ada pabrik es (Nugraha 2004:4).

 

Baca : Cerita Eksotisme Kartu Pos dan Kuliner Zaman Belanda

Diketahui juga bahwa saat itu es batu menjadi salah satu sajian andalan dari Hotel de Provence setiap malamnya yang secara khusus disajikan di Salon des Glases dengan diiringi permainan musik.

Kemudian pada pertengahan abad ke-19, kapal-kapal yang datang dari Amerika Utara membawa berbalok-balok es ke beberapa pelabuhan di Nusantara.

Menurut Lombard sekitar tahun 1869, keluarga-keluarga kaya di Batavia hanya minum air yang berasal dari es mencair yang didatangkan dari Boston (Lombard 2000:322).

Sementara itu, es batu yang kala itu disebut juga aijer batoe tidak hanya menjadi barang mewah, akan tetapi juga tergolong langka. Sehingga, bagi mereka yang ingin menikmati kemewahan itu harus menunggu setahun terlebih dahulu hingga es didatangkan dari luar negeri.

Seiring berjalannya waktu, semuanya pun menjadi mudah setelah ditemukannya teknologi pembuatan amoniak di Eropa sebagai bahan pembuat es yang diimpor ke Jawa sekitar akhir tahun 1880.

F. Schulze dalam Guide of West Java (1894), pada awalnya pabrik es dimiliki oleh orang Eropa seperti di Batavia satu di Molenvliet (gang Chasse) dan satunya lagi di wilayah Petojo. Namun dengan cepat pengusaha Tionghoa mengambil alih usaha dingin tersebut.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini