Pangersa Abah Anom, Ulama dari Suryalaya yang Mendunia

Sabtu, 15 Januari 2022 12:11 Eris Kuswara Nasional

Pangersa Abah Anom, Ulama dari Suryalaya yang Mendunia

 

Koropak.co.id - KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin atau yang lebih dikenal dengan nama Abah Anom, lahir di Suryalaya 1 Januari 1915. Abah Anom merupakan putra kelima dari pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, Syekh Abdullah bin Nur Muhammad dan dari ibu yang bernama Hj Juhriyah.

Di usianya yang menginjak delapan tahun, Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian dia melanjutkan pendidikannya dengan masuk Sekolah Menengah semacam Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya.

Dilansir dari sulyalaya.org, pada tahun 1930, Abah Anom pun memulai perjalanan untuk menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus. Kala itu dia belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur. Setelah itu dia juga belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur.

Setelah kurang lebih dua tahun belajar di Pesantren Jambudipa, Abah Anom pun melanjutkan pendidikannya ke Pesantren Gentur, Cianjur yang pada saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi.

Berselang dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom pun melanjutkan pendidikannya di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi yang terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang ahli hikmah dan silat.

Mulai dari Pesantren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman dalam banyak hal, termasuk bagaimana caranya mengelola dan memimpin sebuah pesantren.

Kegemarannya dalam bermain silat dan kedalaman rasa keagamaannya juga turut diperdalam lagi di Pesantren Citengah, Panjalu, yang pada masa itu dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal sebagai ahli alat, jago silat dan ahli hikmah.

Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru’yanah dan setelah menikah dia pun berziarah ke Tanah Suci.

Sementara itu dilansir dari NU Online, sepulang dari Makkah, Abah Anom pun ikut serta memimpin Pesantren Suryalaya mendampingi ayahnya. Namun, dikarenakan pada tahun 1939 sampai dengan 1945 merupakan masa-masa menjelang kemerdekaan, sehingga dia pun lebih aktif sebagai pejuang yang turut menjaga keamanan dan ketertiban NKRI.

Bahkan ketika terjadi gerakan Darul Islam (DI/TII) di Jawa Barat, Abah Anom memutuskan untuk segera bergabung dengan TNI melawan gerakan tersebut. Dengan demikian, pada masa akhir sampai awal kemerdekaan, Abah Anom sangat berkontribusi dalam menjaga kedaulatan NKRI, baik dari penjajahan bangsa asing maupun dari gerakan makar saudara sebangsa sendiri.

Tercatat, Abah Anom memimpin Pesantren Suryalaya secara penuh ketika ayahnya, Abah Sepuh wafat pada tahun 1956. Ketika itu, DI/TII terus bergerak aktif dengan melakukan perlawanan menentang pemerintahan Indonesia di bawah Presiden Ir Soekarno.

Tidak kurang dari tiga puluh delapan kali, Pesantren Suryalaya mendapat teror dari DI/TII yang terhitung sejak tahun 1950 sampai dengan 1960. Sehingga, untuk menghadapi teror dan serangan DI/TII, Abah Anom selaku pemimpin Pesantren Suryalaya selalu menginstruksikan kepada para santri dan pengikutnya untuk memberikan perlawanan secara gigih.

 

 

Baca : Milad Ke-115 Pondok Pesantren Suryalaya, Beramal, Berkhidmat, Bersyukur

Atas kontribusinya itu jugalah Abah Anom memperoleh penghargaan dari pemerintah Indonesia. Abah Anom juga dikenal sebagai seorang kiai yang memiliki karamah berupa kesaktian. Konon, ada banyak kisah yang tersebar mengenai karamah dari Abah Anom, seperti yang dituliskan di buku-buku latar belakang dan perkembangan Pesantren Suryalaya.

Salah satunya kisah seorang kapten sakti yang ingin menjajal ilmu kesaktian Abah Anom. Diceritakan pada suatu hari, seorang kapten yang sakti dan beberapa anak buahnya itu datang berkunjung ke Pesantren Suryalaya. Dalam kunjungannya, kapten itu membawa sebuah batu kali sebesar kepalan tangan di kantongnya.

Batu tersebut pun lantas dikeluarkan dan diletakkan di tangannya. Dengan sekali pukul, sang kapten berhasil membelah batu tersebut menjadi dua. Setelah unjuk kebolehan, kapten itu dengan sombong menyerahkan batu kalinya pada Abah Anom agar si tuan rumah mempertontonkan kemampuannya.

Namun Abah Anom hanya tersenyum seraya menerima batu kali dari tangan si kapten dan batu kali itu segera diremasnya. Secara ajaib, batu kali tersebut berubah bentuk menjadi tepung yang halus. Sehingga membuat sang kapten terbelalak, seolah tidak percaya dengan kesaktian yang dipertontonkan oleh Abah Anom.

Setelah mengaku kalah, sang kapten itu meminta ditalqinkan untuk menganut dan mengamalkan tarekat yang dipimpin oleh Abah Anom. Sehingga sejak saat itulah dia menjadi pengikut ajaran Abah Anom.

Sementara itu, Pondok Pesantren Suryalaya di bawah kepemimpinan Abah Anom pun berhasil tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lainnya.

Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya juga tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara. Maka, Pondok Pesantren Suryalaya akan tetap mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya.

Di samping melestarikan dan menyebarkan ajaran agama Islam melalui metode Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Abah Anom juga terkenal sangat konsisten terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat.

Sehingga sejak tahun 1961, dia mendirikan Yayasan Serba Bakti dengan berbagai lembaga di dalamnya termasuk pendidikan formal mulai TK, SMP Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah kegamaan, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah.

Selain itu, didirikan juga Pondok Remaja Inabah sebagai wujud perhatian Abah Anom terhadap kebutuhan umat yang sedang tertimpa musibah. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Abah Anom menunjuk tiga orang pengelola, yaitu KH. Noor Anom Mubarok BA, KH. Zaenal Abidin Anwar, dan H. Dudun Nursaiduddin.

Abah Anom pun wafat pada 5 September 2011. Dia dikenal sebagai wali yang istimewa dengan karamahnya sekaligus seorang ulama yang ahli ibadah, dzikir dan berilmu. Dengan kapasitasnya itu, pantas saja apabila ia begitu disegani oleh kalangan ulama di tanah air.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait