Menelusuri Jalur Kereta Api Pertama di Indonesia

Sabtu, 15 Januari 2022 12:47 Eris Kuswara Nasional

Menelusuri Jalur Kereta Api Pertama di Indonesia

 

Koropak.co.id - Kereta api merupakan salah satu transportasi andalan yang ada di Indonesia. Kehadiran alat trasnportasi berbahan bakar mesin diesel ini tentunya memudahkan masyarakat untuk bisa berpindah atau melakukan kegiatan ekonomi dari satu tempat ke tempat yang lainnya.

Selain biayanya yang terbilang lebih murah, berpergian dengan menggunakan kereta api juga dinilai lebih cepat. Namun tahukah kamu dimana jalur kereta api pertama yang ada di Indonesia?

Dilansir dari kebudayaan.kemdikbu.go.id, Semarang – Tanggung diketahui merupakan dua kota di Indonesia yang pertama kalinya terkoneksi melalui jalur kereta api.

Tercatat, jalur kereta api pertama di Indonesia ini dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron Sloet van de Beele pada 17 Juni 1864.

Sementara itu, untuk panjang dari jalur kereta ini adalah sepanjang 25 kilometer dengan lebar 1.435 milimeter dan melewati dua stasiun pemberhentian yakni Brumbung dan Alastua.

Pembangunan jalur kereta api ini kala itu dipegang oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), sebuah kantor perkereta-apian pertama di Indonesia yang terletak di Semarang.

Berselang 3 tahun kemudian atau tepatnya pada 10 Agustus 1867, jalur kereta api Semarang – Tanggung pun secara resmi beroperasi. Saat itu, NIS sendiri memberlakukan harga tiket yang variatif, yaitu mulai dari 0.45 gulden, 1.5 gulden, hingga 3 gulden sesuai dengan kelas yang dipesan.

Ternyata pada masa itu juga bukan hanya manusia yang dapat berpergian menggunakan kereta api ini. Akan tetapi, mulai dari hewan ternak, hasil bumi, pedati hingga gerobak juga dapat dinaikkan ke dalam kereta api tersebut.

Kala itu, kereta api Semarang – Tanggung ini beroperasi dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari dengan waktu tempuh selama 1 jam. Kereta akan berangkat dari Stasiun Semarang pada pagi hari pukul 07.00 WIB dan akan tiba di Stasiun Tanggung pada pukul 08.00 WIB pagi.

Sementara pada sore harinya, kereta akan berangkat pada pukul 16.00 WIB dari Stasiun Tanggung dan tiba pada pukul 17.00 WIB di Stasiun Semarang.

Selain perkembangan jalur kereta api di Jawa, jalur kereta api juga mulai dikembangkan di Sumatera. Diketahui, saat itu rel kereta pertama kali di Sumatera Utara dibangun oleh Perusahaan Kereta Api Swasta Deli Spoorweg Maatschappij (DSM).

 

 

Baca : Kisah Ikan Gurami dan Es Batu Jadi Barang Super Mewah

Pada tahun 1883, DSM berhasil menghubungkan Medan dengan Labuan dengan jarak 21 kilometer. Jalur itu pun ternyata merupakan cikal bakal dari kereta api Medan-Belawan.

Sementara di Sumatera Barat, pembangunan rel pertama kalinya digunakan untuk akses pada jalur perkebunan. Jalur itu digunakan untuk mendistribusikan kopi dari daerah pedalaman ke pusat perdagangan di Padang.

Setelah untuk akses perkebunan, Pemerintah Hindia Belanda juga turut menambah jalur tambang di daerah Sawah Lunto. Namun, jalur ini akan menghabiskan biaya yang sangat besar untuk pembuatan sedikitnya 32 terowongan. Sedangkan untuk biaya yang disediakan oleh Pemerintah Hindia Belanda 5 setengah juta Gulden saja.

Perkembangan kereta api di Sumatera Barat sendiri dapat dikatakan muali berkembang sejak pembangunan jalur kereta api yang dilakukan oleh Perusahaan Kereta Api Negara Sumatra Staats Spoorwegen (SSS).

Pembangunan tersebut dimulai dari Teluk Bayur ke Sawahlunto yang dimulai dari Stasiun Pulo Aer ke Stasiun Padang Panjang sepanjang 17 kilometer dan jalur kereta api ini secara resmi dibuka pada 1 Juli 1891.

Dalam perkembangannya, di daerah Sumatera Barat juga berhasil dibuka jalur kereta sekitar 240 kilometer. Sementara itu, setelah kemerdekaan Indonesia, kereta api yang dikuasai oleh Jepang pada akhirnya mulai direbut kembali oleh pihak Indonesia.

Karyawan kereta api yang tergabung dalam Angkatan Moeda Kereta Api (AMKA) itulah yang mempelopori pengambil alih kekuasaan tersebut dan pada 28 September 1945 maka dibentuklah Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI).

Namun pada tahun 1963, berubah menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA) dan pada era PNKA inilah, ada operator lain seperti Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) yang masih independen. Sehingga kereta api di Indonesia pun hanya memiliki satu operator saja.

Setelah itu, pada 15 September 1971, PNKA berubah menjadi Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) dan pada era PJKA, lokomotif listrik dan diesel masih didatangkan.

Terbukti, pada tahun 1980-an, saat itu kebanyakan masih menggunakan lokomotif listrik-diesel. Setelah 20 tahun berjalan, pada 2 Januari 1991 perusahaan itu berubah lagi menjadi Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka).

Tak hanya itu saja, perubahan kembali terjadi pada tahun 1999 menjadi PT Kereta Api (Persero) dan pada tahun 2010 lalu, PT Kereta Api berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (KAI). Setelah itu, industri perkeretaapian pun bertransformasi menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 


Berita Terkait