Sejarah Museum Kebangkitan Nasional yang Dulunya Gedung STOVIA

Sabtu, 15 Januari 2022 15:43 Eris Kuswara Nasional

Sejarah Museum Kebangkitan Nasional yang Dulunya Gedung STOVIA

 

Koropak.co.id - Museum Kebangkitan Nasional menempati sebuah komplek bangunan bersejarah yang dibangun pada tahun 1899 diatas tanah seluas 15.742 meter persegi.

Diketahui, bangunan tersebut pada awalnya diperuntukan sebagai gedung sekolah dan asrama School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter Bumiputra.

Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, konstruksi gedung STOVIA sendiri terkenal sangat kokoh dikarenakan bangunannya terdiri atas susunan tembok yang tebal.

Sementara itu, STOVIA juga merupakan penyempurnaan dari sistem pendidikan kedokteran Sekolah Dokter Jawa yang didirikan pada tahun 1851 di Rumah Sakit Militer Weltevreeden atau yang sekarang menjadi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto.

Sekolah Dokter Jawa tersebut menempati salah satu bangunan yang ada dalam rumah sakit militer. Hal itu dikarenakan pengajarnya merangkap juga sebagai dokter di rumah sakit itu.

Sayangnya, aktifitas pendidikan dan asrama Sekolah Dokter Jawa yang berlangsung setiap hari itu dinilai mengganggu kenyamanan rumah sakit.

Oleh karena itulah, dewan pengajar pun memutuskan untuk memindahkannya dari lingkungan rumah sakit militer Weltevreden. Tercatat, pada tahun 1899, Direktur Sekolah Dokter Jawa, Dokter H.F. Rool, mulai melaksanakan pembangunan gedung baru disamping rumah sakit militer.

Namun dalam perjalanannya, kegiatan pembangunan gedung itu sempat terhenti dikarenakan kekurangan biaya. Oleh sebab itulah, Dokter H.F. Rool selaku Direktur Sekolah Dokter Jawa berjuang keras dalam mengumpulkan dana untuk membiayai pembangunan gedung.

Beruntungnya, berkat bantuan pengusaha perkebunan dari Deli, pembangunan gedung dan asrama pelajar kedokteran itu dapat diselesaikan pada bulan September 1901.

Selanjutnya, pada 1 Maret 1902, gedung tersebut secara resmi digunakan untuk pendidikan kedokteran dan asrama yang dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas yang dibutuhkan oleh penghuninya.

 

Baca : Menelusuri Jalur Kereta Api Pertama di Indonesia

Gedung baru itu juga sekaligus menjadi tempat belajar dan tempat tinggal yang menyenangkan dikarenakan lingkungan sekitar gedungnya sangat asri. Halaman gedungnya kala itu dipenuhi dengan hamparan rumput yang diselingi dengan taman-taman yang indah.

Pemanfaatan gedung baru itu juga menandai terjadinya perubahan dalam sistem pendidikan kedokteran di Hindia Belanda, Sekolah Dokter Jawa akhirnya diganti menjadi School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter Bumiputra dengan masa pendidikan 9 tahun.

Kurikulum pendidikan di STOVIA juga turut disesuaikan dengan School Voor Officieren van gezondeid di Utrech. Sehingga lulusan STOVIA pun diharapkan sama dengan lulusan sekolah serupa di Eropa.

Pelajar STOVIA yang sudah menyelesaikan pendidikannya di sekolah itu pun akan mendapatkan gelar Inlandsch Arts atau dokter Bumiputra. Mereka pun nantinya akan diangkat menjadi pegawai pemerintah dan ditempatkan di daerah-daerah terpencil untuk mengatasi berbagai macam penyakit menular.

Dokter-dokter muda ini akan dibekali dengan tas kulit yang berisikan alat-alat kedokteran dan uang saku untuk perjalanan menuju lokasi tugasnya.

 

 

Sementara itu, tanah yang digunakan untuk membangun gedung STOVIA sendiri berbentuk persegi panjang yang tidak sempurna. Kemudian bangunan di bagian timurnya juga dimanfaatkan untuk kantor direktur, kantor dewan pengajar, tata usaha, poliklinik dan ruang kelas.

Sedangkan bangunan di bagian utara, barat dan selatan dimanfaatkan sebagai asrama yang dilengkapi dengan kamar mandi. Pada bagian tengah halaman gedung juga terdapat tiga bangunan yang dimanfaatkan untuk praktek fisika dan kimia, kegiatan senam (gymnastic) dan ruang rekreasi.

Kala itu, STOVIA menjadi lembaga pendidikan pertama dan tempat berkumpulnya para pelajar dari berbagai wilayah, dikarenakan pada saat itu juga pemerintah memberi kesempatan yang sama untuk menjadi pelajar STOVIA kepada semua anak bumi putera yang memenuhi syarat.

Pelajar STOVIA pada umumnya memiliki kecerdasan yang cukup tinggi. Hal itu dikarenakan, persyaratan untuk masuk menjadi pelajar STOVIA harus melalui proses yang sangat ketat dan selektif.

 

Baca : Mengunjungi Tiongkok Kecil di Lasem Rembang

Selanjutnya, anak-anak yang sudah diterima menjadi pelajar STOVIA juga harus tinggal dalam asrama yang dipimpin oleh seorang pengawas Indo-Belanda yang disebut dengan suppoost.

Untuk interaksi yang terjadi dalam kehidupan asrama STOVIA sendiri menjadi media untuk mempelajari adat istadat suku bangsa lain. Sehingga saat itu terciptalah suasana saling memahami akan perbedaan kehidupan sosial dan kebudayaan.

Rasa persaudaraan antar penghuni asrama diketahui sudah mulai lahir dan mereka juga sudah tidak lagi memperdulikan perbedaan etnis, budaya atau agama.

Seiring dengan perkembangan zaman, gedung STOVIA pun dianggap tidak representatif lagi untuk dijadikan sebagai tempat pendidikan dokter.

Oleh karena itu, pemerintah Hindia Belanda mulai membangun gedung baru di Salemba bernama Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting atau yang sekarang menjadi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Gedung tersebut itu juga sekaligus menjadi tempat pendidikan kedokteran yang merangkap sebagai rumah sakit dan peralatan kedokteran yang ada didalamnya pun sama dengan yang ada di Eropa.

Mulai bulan Juli 1920, kegiatan pendidikan STOVIA secara resmi pindah ke gedung baru di Salemba dan ruang-ruang kelas yang ada dimanfaatkan sebagai tempat belajar Sekolah Asisten Apoteker.

Pelajar STOVIA saat itu diberikan kebebasan untuk memilih tempat tinggal di asrama STOVIA atau kos di rumah penduduk yang ada di daerah sekitar Salemba.

Pada tahun 1926, gedung STOVIA tidak lagi dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan dan semua aktifitas pendidikan kedokteran dipindahkan ke Salemba termasuk asrama para pelajarnya.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda pun kemudian memanfaatkan gedung STOVIA tersebut sebagai tempat pendidikan sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang berarti pendidikan dasar lebih luas atau setara dengan SMP dimasa sekarang.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini