Islam dan Kebangsaan dalam Kultur Budaya

Jum'at, 25 Mei 2018 10:25 D. Farhan Kamil Daerah

Islam dan Kebangsaan dalam Kultur Budaya

Koropak.co.id - Salah satu ungkapan menyebutkan, untuk merontokkan sebuah bangsa, maka runtuhkan budayanya. Ungkapan tersebut menegaskan bahwa budaya memiliki kekuatan dahsyat dalam menyatukan sebuah negara.

Di tengah-tengah kehidupan penuh fitnah, hoax dan radikalisme, nilai-nilai kehidupan yang terbalut dalam budaya leluhur bangsa, yang saling menghormati, mengayomi dan menyantuni, jauh semakin ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia yang notabene terbesar penduduk Islamnya.

Suasana kebatinan kebudayaan yang dipraktekkan ulama-ulama besar dalam menyebarkan ajaran Islam dengan kultur budaya masing-masing wilayah seperti sunda, jawa, dan lainnya, berhasil merekatkan bangsa ini dalam tata nilai dan etika yang saling mengikat satu sama lain.

Toleransi dalam konteks kebangsaan yang diajarkan para penyebar Islam terdahulu, kini terkoyak oleh segelintir orang yang mengaku paling Islami, yang kerap meneriakan takbir tetapi sikap dan tindakannya bertolak belakang dengan konsep Islam dalam kontek keberagaman dan kebangsaan.

Demikian hal itu dikatakan pengasuh Padepokan Santri Manuk Heulang, Aj. Mimih Haeruman pada acara rihlah ramadan Taruna Merah Putih Kabupaten Tasikmalaya di Padepokan Santri Manuk Heulang, Kamis (24/5/2018).

Islam dan Kebangsaan dalam Kultur Budaya"Kini bagaimana kita mengambil kembali suasana kebatinan dalam kultur budaya masing-masing. Orang sunda jadilah orang suda yang Islami, demikian juga dengan orang Jawa, Batak, Madura dan lain sebagainya. Rosulullah SAW berpesan, kamu lebih mengatahui urusan duniamu. Demikian dalam Al Quran, Allah SWT berfirman, sesungguhnya Allah tidak akan melihat pakaianmu, Allah hanya melihat keikhlasan mu dalam menjalankan tugas ketuhanan," papar Mimih.

Ditambahkan, dulu Islam sebagai rahmatan lil aalamiin telah menyelamatkan manusia. Karena memang Islam hadir sebagai penyelamat. Kini terbalik, justru manusia berbondong-bondong ingin menyelamatkan Islam. Seolah-olah Islam berkata tolong selamatkan saya.

Kondisi ini terjadi karena manusia sudah menjadikan tuhan dari agamanya, untuk menjastis, mendiskriminasi, menghukum dan mengkafir-kafrikan sebagian lainnya.

"Islam kini semakin jauh meninggalkan manusia. Saya anggap ini sebuah konsekuensi "kawalat". Kita saat ini terancam dengan tumbuhnya aliran-aliran baru yang mendorong lahirnya peluang anasir-anasir yang hendak mengotori, melemahkan dan merusak Islam," kata Mimih.

Selanjutnya : Kondisi Bangsa Kian Menggelisahkan

Penulis : Farhan


Berita Terkait