Redenominasi Dorong Efisiensi Ekonomi

Rabu, 06 Juni 2018 21:15 Clara Aditia Daerah

Redenominasi Dorong Efisiensi Ekonomi

Koropak.co.id - Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya, Heru Saptaji menilai rencana redenominasi rupiah mendorong terwujudnya efisiensi ekonomi.

Dengan penyederhanaan jumlah digit sebanyak 3 angka, juga turut akan dapat menaikan kehormatan level kurs rupiah, efisiensi biaya cetak, dan mengurangi resiko eror.

"Level kurs rupiah lebih terhormat. Wacana ini sudah diusulkan sejak 2010 ke DPR RI, dan beberapa tahun kemudian mulai diseriuskan. negara pertama yang melakukan redenominasi ini adalah Jerman," katanya.

Hal itu disampaikan Heru kepada Koropak.co.id usai kegiatan sharing dan diskusi yang digelar KPw BI Tasikmalaya di Laut Biru Hotel Pangandaran, Rabu (6/6/2018).

Baca pula : Sharing Discussion KPw BI Tasikmalaya

Jadi, kata Heru, nantinya uang pecahan Rp 1.000 akan tertulis Rp 1,-. Redenominasi tersebut sama sekali tidak akan mempengaruhi nilai uang tersebut, hanya merubah angka tertera saja.

Redenominasi Dorong Efisiensi Ekonomi

"Untuk melaksanakan redenominasi ini, syaratnya, stabilitas makro ekonomi harus terjaga. Kondisi sosial ekonomi harus kondusif. Memang untuk implementasinya bukan perkara mudah. Perlu ada proses transisi yang tidak sebentar," kata Heru.

Sementara itu, terkait antisipasi uang palsu yang dikhawatirkan meningkat seiring dengan menjelang hari raya Idulfitri, Heru mengatakan secara intensif, KPw BI Tasikmalaya melakukan edukasi kepada masyarakat.

"Kami imbau kalau masyarakat menemukan uang palsu, laporkan. Kita harapkan masyarakat semakin cerdas melihat uang palsu atau asli," tuturnya.

Sementara terkait inflasi, penyumbang inflasi terbesar dalam momentum menjelang lebaran adalah telur ayam ras dan daging ayam ras. Termasuk pula produk turunannya, yaitu ayam goreng serta martabak.

Baca pula yang lainnya :
- Gerakan Kelurahan Sadar Inflasi
- PMR Wujud Upaya BI Tekan Laju Inflasi

"Aneh memang jadi ke martabak, namun mungkin salah satu penyebabnya dikarenakan tingginya permintaan terhadap martabak. Solusinya, harus ada diversifikasi pola konsumsi masyarakat. Coba untuk konsumsi produk lainnya agar permintaan terhadap komoditi merata, tidak menumpuk pada satu komoditi yang memicu terjadinya inflasi," kata Heru.*

Simak juga video berikut :
- GenBI Dikukuhkan
- Opening Pasar Murah Rakya Bank Indonesia

 


Berita Terkait