Mahasiswa Kambing

Selasa, 24 Juli 2018 10:48 Admin Opini

Mahasiswa Kambing

Mahasiswa Kambing

 

DI NEGERI INI, semua mahasiswa baru ketika menjalani ospek, atau sekarang dikenal dengan istilah Masa Pengenalan Lingkungan Kampus, tatkala mendengar komando dari senior-seniornya, pernah menghadapi suatu momen heroik ketika harus mengangkat tangan kirinya yang terkepal sembari berteriak “Hidup Mahasiswa!” dan “Hidup Rakyat!”.

Adakah ia seorang idealis? Adakah ia seorang mahasiswa yang patuh? Kita tidak tahu.

Mahasiswa itu mungkin adalah sebuah contoh jenis manusia yang lazim hidup dalam sebuah sistem “pasca reformasi”, sebuah sistem yang sonder demokrasi, tapi juga tanpa kediktatoran yang lazim.

Dalam sistem itu, yang berjalan adalah kompromi-kompromi otomatis. Si mahasiswa berteriak tidak dengan tekad sendirinya. Apakah karena Dia yakin bahwa mahasiswa di seluruh penjuru negeri perlu bersatu? Tentu tidak, ia hanya melakukannya, karena mahasiswa lain juga melakukannya.

Seperti para tim sukses calon Kepala Daerah yang memasang spanduk kampanye politik menjelang Pilkada Serentak 2018, tanpa harus yakin bahwa terpilihnya pemimpin baru itu akan membawa perubahan lebih baik karena yang jadi patokan adalah "saya dapat uang dan hidup aman".

Begitupun para mahasiswa yang berteriak “Hidup Mahasiswa” dan “Hidup Rakyat” itu dilakukan para mahasiswa hanya karena sudah menjadi bagian dari ritual kepatuhan yang digariskan dari senior-seniornya.

Para mahasiswa yang masuk Organisasi Kemahasiswaan, untuk yang eksternal dari mulai putih, kuning, hijau, merah, dan lainnya. Sedangkan yang internal, kebanyakan bergabung karena dasar ikut-ikutan, ingin kelihatan gaya-gayaan dan unjuk gigi, merasa lebih superior, dan istimewa dari mahasiswa-mahasiswa yang lain.

Parahnya lagi, hanya untuk bisa belajar korupsi sedari dini, juga mendapatkan dede-dede gemes sebagai objek liur birahi para mahasiswa senior, dan pejabat di jajaran Badan, Himpunan, Dewan kemahasiswaan apapun wadah itu sebutannya.

Wahai kawanku, jika kalian hanya berpikiran oportunis pragmatis, melihat organisasi mahasiswa sebagai batu loncatan untuk bisa terjun langsung pada politik praktis, menjual idealisme yang tidak seberapa itu, maka kegiatan-kegiatan mulai dari pelantikan, rapat-rapat pengurus, koordinasi, seminar, dan lainnya, itu bukannya tidak perlu.

Aksi langsung memang berdasarkan dari hasil rapat, tapi aksi langsung bukanlah semata rapat yang dipraktekkan. Intinya rakyat butuh tindakan nyata, bukan cuma wacana di balik meja. Sementara itu gerakan kalian buntu tak tentu jalan tuju, sangat tidak berguna seperti hura-hura colour run dan live DJ.

Di tengah kondisi ekonomi yang menciut, mati rasa akal tergerus, skeptisme masyarakat yang kian hari kian cerdas, semakin menjadi-jadi dalam memandang mahasiswa. Setiap perguruan tinggi di negeri ini ibarat penjara kaca yang memenjarakan mahasiswa, seolah bebas melihat realita sosial, namun tak mampu bergerak ke luar dan terus berputar di dalam penjara kaca itu.

Adapun yang berhasil keluar dari penjara kaca itu, harus lebih dulu berhadapan dengan ilusi kaca yang mencerminkan citra dirinya sendiri, dalam ilusi narsisme yang ditampilkan dalam jejaring sosial media yang banyak macamnya.

Tidak usah terlalu jauh membahas. Marilah kembali lagi ke si mahasiswa yang tak peduli apa sebenarnya makna dari kalimat “Hidup Mahasiswa” dan “Hidup Rakyat” itu. Layaknya seekor kambing, Ia hanya mengembik bersama kambing lain, saling bersahutan satu sama lain tanpa tau siapa yang memulai

Lantaran Ia merasa begitulah adat hidup di kandang kambing, hingga Ia pun secara perlahan mentrasformasikan diri menjadi kambing, lebih tepatnya mahasiswa kambing. Idealnya seorang mahasiswa adalah agen perubahan. Mahasiswa bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah negeri, lalu dengan gagahnya mengusir penjahat-penjahat. Serta dengan gagah pula sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan penduduk setempat.

Dalam artian mahasiswa tidak hanya menjadi penggagas perubahan, melainkan harus menjadi objek atau pelaku dari perubahan tersebut. Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar, dan membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah dan cemas. Namun sekarang, kebanyakan mahasiswa hanya berpikiran oportunis pragmatis.

"Yang penting ketika saya lulus, dengan nilai yang baik, saya bisa bekerja di perusahaan idaman, dan duduk nyaman di kursi empuk. Dapat uang banyak, dan hidup aman". Begitu kurang lebih yang ada di pikiran mereka.

Tidak ada yang perlu dikritisi, karena ini adalah hal yang wajar bahwa kebanyakan mahasiswa di negeri “pascareformasi” ini dikuasai rasa takut untuk jadi lain daripada yang lain. Jadi kontroversial, nyentrik, bengal, dan tidak patuh.

Pesan “Hidup Mahasiswa” dan “Hidup Rakyat” bukanlah Ia tunjukan kepada para mahasiswa dan rakyat.

Isi dari teriakan “Hidup Mahasiswa” dan “Hidup Rakyat” itu tak penting. Sebab, pesan yang sebenarnya adalah kehadirannya itu sendiri. Semacam teriakan yang mengandung isyarat.

Jika diterjemahkan dalam kata-kata, isyarat itu berbunyi "Saya mahasiswa kampus X, kuliah di sini, dan tahu apa yang harus saya lakukan. Saya nurut dengan cara diri saya sendiri. Sebab itu saya berhak untuk tidak diganggu".

Tapi mengapa isyarat harus disusun sebagai isyarat? Mengapa teriakan itu tidak berbunyi “Saya takut dan sebab itu saya taat penuh”? Karena, seandainya teriakan itu berbunyi demikian, sang mahasiswa tak akan bisa bersikap acuh tak acuh pada isi kalimatnya.

Seandainya slogan itu berbunyi demikian, si mahasiswa akan merasa malu sebab ia adalah seorang manusia yang mempunyai harga diri. Agar rasa malu itu tak terbit, isyarat pun dipilih.

Juga penting, setidaknya, isyarat itu bisa memberi peluang bagi si mahasiswa untuk membela diri. Misalnya dengan mengatakan “Apa salahnya sih bila seluruh mahasiswa di Indonesia bisa bersatu padu bersama rakyat?” atau “Apa salahnya mengangkat kartu kuning pada presiden?”

Dengan demikian, slogan itu menolong si mahasiswa untuk menyembunyikan betapa rapuh dasar kepatuhannya. Ia bukan saja takut terhadap tilikan orang lain, tetapi juga terhadap kondisi saat Ia mawas diri.

Ia ingin mengenakan sesuatu yang lebih hebat ketimbang sekedar perisai. Lebih hebat dari sekedar kedok. Ia ingin pakai sesuatu yang luhur, yang sebenarnya baju zirah gemerlap, dan itu adalah ideologi.

Di depan tilikan hati nurani, ideologi berfungsi sebagai dalih.

Ideologi menyediakan suatu ilusi pandangan hidup, bahwa sistem yang berlaku itu selaras dengan tertib hidup alam semesta dan manusia. Ilusi itu dipegang baik oleh yang mendukung sistem, maupun yang jadi korban sistem itu sendiri.

Maka, justalah yang menopang permukaan yang rata dan rapi itu. Sistem yang ditegakkan di atas permukaan itu pun, berusaha agar justa itu tak retak sedikitpun. Sang sistem takut amblas.

Apa gerangan yang bakal terjadi seandainya si mahasiswa terus terang berteriak pada slogannya “Saya mahasiswa dan sebab itu saya hanya ikut-ikutan teriak".

Guncangan akan timbul. Biarpun si mahasiswa itu kerempeng dan tak berwibawa, ucapannya akan memberikan alternatif yang selama ini disingkirkan. Sebuah alternatif yang pada hakikatnya cocok dengan batin mahasiswa, jujur, idealis, yang jumlahnya semakin hari bisa dihitung dengan jari.

Mahasiwa yang memiliki batin yang tak ingin bohong terus menerus, tak ingin jadi kambing terus-menerus. Batin yang merindukan bahwa embik harus diganti dengan sesuatu yang lebih sesuai dengan martabat manusia.

Di bawah permukaan kehidupan, dalam sistem “pascareformasi” ini tertidur lapisan hidup yang tak nampak. Di sana bersembunyi kemerdekaan, juga sikap terbuka untuk mengakui kebenaran. Di sanalah hidup batin orang-orang yang tak berkuasa, tak berkekuatan namun tetap bertahan.

Saya pribadi mempersembahkan cinta untuk saudara-saudara kita yang terpapar wabah campak dan gizi buruk di Asmat. Juga saudara kita yang sagunya tergantikan sawit di Papua. Untuk mereka yang terhimpit tambang liar di Bone, Sinai, hingga Gowa.

Untuk masyarakat adat, petani Langkat, mereka yang mempertahankan konservasi di Teluk Benoa, hingga mereka yang dihujani serbuan bulldozer Pemkot Bandung di Tamansari.

Juga bagi mereka yang bertahan di Rembang dan Pati, di hadapan rezim Bandara di WTT, Majalengka, dan Kulon Progo. Di bawah ancaman tambang di Lumajang, Sumatera Utara, Karawang, Jambi hingga Bangka. Di bawah bedil di Urutsewu dan Bima. Di hadapan rezim konsesni dari Indramayu, hingga Moromoro yang bertahan dari Batang hingga lereng Ciremai.

Juga alim ulama di masjid dan pesantren yang gelisah di bawah ancaman serangan orang gila, yang sama tidak warasnya dengan penyerangan bom bunuh diri di tiga Gereja Surabaya. Paling terakhir, kamerad-kamerad HMI yang habis dipukuli aparat polisi saat menyuarakan 20 tahun reformasi.

Maka, jangan pernah berpikir bahwa pasca diundinya nomor urut paslon menjelang Pilkada akan menghentikan semuanya. Sama halnya dengan kampanye yang gencar mereka sebar, kekacauan terstruktur, dan sistematis. Juga baru dimulai dan untuk kalian para mahasiswa yang sering mengangkat tangan kiri dan berteriak “Hidup Mahasiswa!” dan “Hidup Rakyat!”, inilah saatnya untuk keluar kandang.

“Kalian pemuda, kalau tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri!” - Pramoedya Ananta Toer.*

 

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca Koropak, isi dari opini di luar tanggung jawab redaksi. Cara kirim tulisan, klik disini !


Berita Terkait