Dwiadi Cahyadi : Politik Periskop Sangat Tidak Mendidik

Selasa, 14 Agustus 2018 17:45 Admin Opini

Dwiadi Cahyadi : Politik Periskop Sangat Tidak Mendidik

 

Koropak.co.id - Dwiadi Cahyadi

 

DUA PASANGAN calon presiden dan calon wakil presiden untuk kontestasi tahun 2019 sudah jelas. Ada yang terkejut, banyak yang bersorak, dan tidak sedikit yang kecewa. Biasa. Tidak ada satupun hal di dunia yang dapat menyenangkan semua orang.

Dengan jelasnya siapa berpasangan dengan siapa, untuk bertanding dengan siapa yang berpasangan dengan siapa, mulailah Indonesia pada masa dukung-mendukung calon pemimpin.

Bagi banyak kalangan, proses ini sangat menarik, setidaknya untuk bermain tebak-tebakan. Bahkan bagi sebagian lain, tebak-tebakan itu berujung pada untung-untungan berjudi, bukan sesuatu yang diharapkan tentunya.

Sebagai salah satu negara demokrasi terbesar di dunia, proses yang tengah berlangsung di Indonesia menjadi sorotan dunia internasional. Indonesia menjadi salah satu magnet pembelajaran demokrasi nyata di muka bumi.

Dengan demikian, diperlukan kesadaran bagi semua lapisan masyarakat Indonesia bahwa apa yang terjadi di Indonesia, dalam konteks proses menuju pemilihan Presiden/ Wakil Presiden tahun 2019, akan segera diketahui oleh warga dunia.

Hal itu berarti pula bahwa wajah Indonesia turut dipertaruhkan dalam semua rangkaian proses ini. Baik-buruknya cara masyarakat Indonesia menjalani proses pemilihan Presiden/ Wakil Presiden menentukan baik-buruknya nilai Indonesia di mata dunia.

Dalam kegiatan dukung-mendukung pasangan calon presiden/ wakil presiden, tidak jarang sedikit pihak yang menggunakan politik periskop. Istilah ini hanya istilah buatan penulis saja, yang kurang lebih dapat diartikan sebagai politik yang hanya melihat keadaan orang lain tanpa bisa melihat apa yang tengah terjadi pada diri sendiri. Oleh karena itu, penulis menyebut politik periskop tidak diberi inisial huruf kapital karena belum menjadi sebuah nama yang dikenal.

Dengan politik periskop seorang atau sekelompok orang yang menjadi kontestan dalam suatu ajang pemilihan, dalam hal ini pemilihan Presiden/ Wakil Presiden, sangat rajin untuk menyelidiki keburukan yang ada pada pihak lawan kontestasinya. Setiap hal yang buruk yang ada pada diri lawannya akan dibuka selebar-lebarnya, terkadang diberi bumbu-bumbu pembuas, dan bahkan tidak mustahil ditempeli fitnah yang keji.

Bahkan uniknya, apabila seorang atau sekelompok orang yang menjadi kontestan itu menemukan sesuatu yang baik dari pihak lawan kontestasinya, ia akan membalikkan cerita sehingga kebaikan itu menjadi suatu keburukan. Untuk itu, fitnah menjadi pemeran utama yang tidak bisa ditinggalkan.

Politik periskop dapat dikatakan sebagai lawan dari Politik Mercusuar, di mana pelaku politik ini ingin selalu tampak megah meskipun di dalam dirinya porak-poranda. Keduanya sama-sama tidak baik dan sangat tidak mendidik. Keduanya terlalu mengutamakan proses melebih-lebihkan.

Politik periskop melebih-lebihkan kekurangan orang lain, bahkan bila perlu menciptakan kekurangan pada diri orang lain. Sedangkan Politik Mercusuar cenderung melebih-lebihkan kebaikan diri sendiri, bahkan bila perlu melakukan kebohongan agar diri tampak lebih baik.

Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang menjunjung Ketuhanan Yang Maha Esa tentu harus tetap berpegang pada ajaran dari Tuhan Yang Maha Esa, apapun agama dan/ atau kepercayaan yang dianut. Salah satu ajaran yang patut untuk selalu dipatuhi dalam konteks dukung-mendukung dalam pemilihan Presiden/ Wakil Presiden adalah kejujuran.

Di antara kejujuran yang harus mendapat perhatian yang paling tinggi adalah kejujuran mengenai diri sendiri. Alangkah indahnya apabila masing-masing kelompok kontestan berlomba melakukan kebaikan tanpa sedikitpun perlu mengungkit kekurangan kontestan lawannya. Jujurlah dalam berkarya untuk kepentingan bangsa dan negara.

Tak perlu berbohong agar dilihat menjadi yang lebih baik. Tidak perlu mengungkit kesalahan orang lain, apalagi memfitnah orang lain, hanya agar kontestan lain tampak lebih buruk.

Apabila semua kontestan beserta kelompoknya sudah bisa jujur terhadap diri sendiri, tanpa mengungkit orang lain, tentu saja, alangkah indahnya hidup di negeri tercinta ini.

 

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca Koropak, isi dari opini di luar tanggung jawab redaksi. Cara kirim tulisan, klik disini !


Berita Terkait