Teten Sudirman : Jangan Hanya Sekedar Pawai

Jum'at, 14 September 2018 18:33 Admin Opini

Teten Sudirman : Jangan Hanya Sekedar Pawai

 

Teten Sudirman  Jangan Hanya Sekedar Pawai

 

DALAM menyambut momentum pergantian tahun Hijriyah (1 Muharam), pada setiap tahunnya selalu dihiasi dengan kegiatan pawai obor di malam hari dan pawai/karnaval budaya di siang harinya. Kegiatan tersebut sebagai ekspresi kegembiraan serta rasa syukur atas tibanya tahun baru Hijriyah yang menjadi almanak penanggalan bagi kaum muslimin.

Mengingat banyak kegiatan ritual peribadatan dalam syariat Islam, seperti ibadah puasa (shaum) dan haji erat kaitannya dengan penanggalan tahun komariyah. Karena penanggalan tahun Hijriyah berdasarkan kepada peredaran bulan (qomar) mengelilingi bumi.

Namun yang patut dipertanyakan, apakah tiada cara lain yang dinilai lebih baik dan lebih bermanfaat bagi meningkatkan citra serta marwah agama Islam sendiri? Selama ini masih banyak kebiasaan dan budaya peninggalan kaum kolonial yang notabene umat non muslim, yang belum disesuaikan dengan budaya Islam.

Sekedar contoh, pertama pada urutan nama hari masih digunakan nama Minggu untuk hari pertama dalam sepekan. Padahal hari-hari lainnya menggunakan nama islami (senin hingga Sabtu).

Kedua, hari libur kerja nasional diberlakukan pada hari Minggu, hari dimana orang-orang Nasrani menunaikan ibadah ritualnya di gereja. Dan kini hari libur kerja itu ditambah dengan hari Sabtu.

Oleh karena itu alangkah lebih baik jika dalam menyambut datangnya tahun baru Hijriyah, diisi dengan gerakan kebijakan yang monumental berupa :1. Mengganti nama hari Minggu dengan hari Ahad (hari pertama/kesatu).2. Mengganti hari libur kerja yang sebelumnya pada hari Minggu/Ahad menjadi pada hari Jum'at (saat kaum muslimin menunaikan ibadah salat Jum'at).

Jadi hari libur kerja itu pada hari Jum'at dan Sabtu. Sedangkan hari Ahad dijadikan hari pertama kerja hingga hari Kamis. Logikanya warga penganut agama mayoritas lebih layak dihormati kegiatan ibadah ritualnya ketimbang menghargai ibadah ritual warga penganut agama minoritas.

Selain itu, sosialisasi penggunaan penanggalan/kalender Hijriyah di kalangan kaum muslimin perlu digalakkan. Dengan demikian, diharapkan ke depan citra umat Islam ini benar-benar berwibawa di negerinya sendiri, lepas dari bayang-bayang pengaruh budaya kolonial yang non muslim. 

 

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca Koropak, isi dari opini di luar tanggung jawab redaksi. Cara kirim tulisan, klik disini !

 


Berita Terkait