Fakta di Balik Mahasiswa Terjatuh di Gua Batu Badak

Senin, 19 November 2018 20:25 Dede Hadiyana Daerah

Fakta di Balik Mahasiswa Terjatuh di Gua Batu Badak

 

Koropak.co.id - Musibah jatuhnya Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Sekolah Tinggi Teknologi Garut (STTG) Garut di Gua Batu Badak Cisarongge Desa Wakap Kecamatan Bantarkalong Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (18/11/2018) yang diakibatkan putusnya tali penyangga, menjadi bahan evaluasi bagi para penggiat alam bebas.

Salah seorang tim Rescue yang turun ke dasar gua dan menyelamatkan para korban, Fajar dari Tasikmalaya Caving Community (TCC) menuturkan dirinya mendapat kabar ada korban jatuh saat caving, sekitar pukul 13.36 WIB. Seketika ia dan tim melaksanakan briefing di Basecamp Ornamen, untuk menentukan teknik evakuasi, pembentukan tim, serta alat yang dibutuhkan.

"Tim langsung meluncur ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan tiba sekitar pukul 17.00 WIB. Setengah jam kemudian tim tiba di mulut gua. Selepas magrib, tim baru melakukan Rigging dan selama kurang lebih 2 jam berhasil mengevakuasi keempat korban," ujarnya.

Kecelakaan tersebut murni karena tali Karmantel yang menjadi penyangga putus saat Aminudin (18), korban meninggal dunia hendak turun dan masuk ke dalam gua.

"Kemungkinan, tali yang digunakan sudah tidak layak pakai, penggunaannya yang berlebih, atau bahkan karena faktor kimia atau Core Damage. Tapi, penyebab putusnya tali tersebut masih dalam tahap investigasi. Kemungkinan juga Core tali di dalamnya sudah ada yang putus, karena secara visual tali tidak ada priksi pada saat kegiatan tersebut berlangsung," ujarnya.

Dijelaskan Fajar, jika melihat dari kondisi di lapangan, terdapat sisa tali dari Main Anchor sekitar 50 Centimeter dari putusnya tali, diduga korban terpelanting ke teras gua kemudian terjun bebas ke dasar gua sedalam 39 meter. Terdapat hentakan atau Fall Factor yang menjadikan 2 titik terputusnya tali serta Descender yang terpasang pada sisa tali yang terputus.

 

Koropak.co.id  - Fakta di Balik Mahasiswa Terjatuh di Gua Batu Badak (1)

 

Baca : Korban Jatuh ke Jurang gua Batu Badak Berhasil Dievakuasi

 

Mantan Ketua TCC periode 2009-2016 itu menjelaskan, dalam kasus tersebut ada pelajaran dan bahan evaluasi bahwa pada perawatan alat-alat outdoor harus mengetahui histori atau sejarah alat yang digunakan. Usahakan ketika hendak menggunakan alat, cek terlebih dahulu alat dan riwayat pemakaian sebelumnya.

"Alat-alat Outdoor, khususnya tali yang berbahan katun atau tekstil ada masa kadaluarsanya yang tercantum pada katalog brand pabrikan masing-masing alat. Apalagi jika tercampur bahan-bahan kimia, itu sangat rentan dan merusak tali. Baiknya, sebelum kegiatan diusahakan cek alat dan pastikan kalau alat tersebut layak pakai," katanya.

Ditambahkan Fajar, dalam berkegiatan di alam bebas, salah satu komponen penting selain Skill adalah alat. Oleh sebab itu, pengecekan kondisi alat sebelum dipakai sangatlah penting. Harus berhati-hati juga dalam memilih alat, apalagi yang belum teruji kualitasnya, jangan sampai tergiur dengan harga murah.

"Kebanyakan di Indonesia, indikator kerusakan alat hanya dilihat dari visual luarnya saja. Seperti tali, jika sudah ada friksi baru dibilang rusak, pada Carrabiner jika Gatenya belum terlepas, belum dikatakan rusak," katanya.*

 

Baca : Inilah Kronologi Jatuhnya Anggota Mapala STTG

 

 


Berita Terkait