Putu Wijaya, Sang Maestro Teater Tanah Air

Senin, 03 Desember 2018 17:11 Clara Aditia Nasional

Putu Wijaya, Sang Maestro Teater Tanah Air

 

Koropak.co.id - Bagi para pegiat teater, nama seorang Putu Wijaya nampaknya sudah tidak asing lagi. Lahir di Puri Anom, Tabanan Bali, pria dengan nama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya merupakan seorang inspirator dalam industri teater Tanah Air.

Karya-karyanya yang melegenda, telah membawa perubahan bagi bangsa. Termasuk pula dedikasinya yang tak lekang oleh waktu, menjadikannya sebagai sosok panutan dalam jagat perteateran Indonesia.

Kiprah suami dari Dewi Pramunawati tersebut dimulai saat dirinya lulus di SMA Singaraja, dan melanjutkan studynya ke Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Selain kuliah di Fakultas Hukum, UGM, ia juga mempelajari seni lukis di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), drama di Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi), dan meningkatkan kegiatannya bersastra.

Dari Fakultas Hukum, Putu Wijaya meraih gelar sarjana hukum (1969), dari Asdrafi ia gagal dalam penulisan skripsi, dan dari kegiatan berkesenian ia mendapatkan identitasnya sebagai seniman.

Setelah tujuh tahun lamanya tinggal di Yogyakarta, Putu Wijaya pindah ke Jakarta. Di Jakarta ia bergabung dengan Teater Kecil dan Teater Populer. Di samping itu, Putu Wijaya juga berkarir sebagai redaktur majalah Ekspres.

 

Koropak.co.id - Putu Wijaya, Sang Legenda Teater Tanah Air (2)

 

Baca : Di Mata Ngaos Art, Putu Wijaya Sosok Inspiratif


Vakumnya majalah Ekspres memutuskan Putu Wijaya untuk pindah dan menjadi redaktur majalah Tempo (1971-1979). Bersama rekan-rekannya di majalah Tempo, Putu mendirikan Teater Mandiri (1974). Tidak henti sampai di sana, kiprahnya dalam industri teater memberikannya kesempatan untuk bermain film berjudul Malin Kundang.

Saat masih bekerja di majalah Tempo, Putu mendapat beasiswa belajar drama di Jepang pada 1973. Namun, karena tidak kerasan dengan lingkungannya, sepuluh bulan kemudian Putu kembali ke Indonesia, dan kembali aktif di majalah Tempo.

Pada tahun 1975 Putu mengikuti International Writing Program di Iowa, Amerika Serikat. Selepas itu, Putu melanjutkan karirnya dengan menjadi redaktur majalah Zaman pada 1979 hingga 1985.

Keahliannya dan pengalamannya dalam bermain drama, membawanya tampil dalam pentas drama di luar negeri, antara lain Festival Teater Sedunia di Nancy Prancis tahun 1974, dan Festival Horizonte III di Berlin Barat Jerman tahun 1985.

 

Koropak.co.id - Putu Wijaya, Sang Legenda Teater Tanah Air (3)

 

Baca : Edan : Perang Adalah Ibu Kejahatan

Putu juga membawa kelompok teaternya, yakni Teater Mandiri, berkeliling Amerika dalam pementasan drama Yel, serta tampil di Jepang tahun 2001. Selama bermukim di Yogyakarta, kegiatan sastranya lebih terfokus pada teater. Ia pernah tampil bersama Bengkel Teater pimpinan W.S. Rendra dalam beberapa pementasan, antara lain dalam pementasan Bip-Bop (1968) dan Menunggu Godot (1969).

Sejumlah karyanya, baik drama, cerpen, maupun novel, telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand. Gaya Putu menulis novel tidak berbeda jauh dengan gayanya menulis drama yang cenderung menggunakan gaya objektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness dalam pengungkapannya.

Kini, di usianya yang tak lagi senja, Putu Wijaya didera penyakit stroke. Namun, kesakitannya tidak membuatnya berhenti berkarya bersama Teater Mandiri yang dibentuknya. Hingga saat ini, Putu Wijaya tetap aktif berkarya.

Hal itulah yang menginspirasi seniman muda Indonesia. Dedikasi Putu Wijaya yang tak lekang oleh waktu, menjadi spirit industri pementasan Tanah Air untuk maju. Terimakasih Putu Wijaya atas pengabdian dan semua karyamu!.*

 

Baca : Bendera Bukan Sehelai Kain

 

 


Berita Terkait