Dede Farhan Aulawi : Menghadapi Era Disrupsi Jurnalistik

Senin, 17 Desember 2018 20:36 Admin Opini

Dede Farhan Aulawi : Menghadapi Era Disrupsi Jurnalistik

 

Menghadapi Era Disrupsi Jurnalistik

 

ZAMAN TELAH BERUBAH, sedang berubah dan akan terus berubah. Peradaban manusia pun terus berubah. Pelayanan yang baik akan menjadi kata kunci agar sebuah perusahaan atau lembaga tetap survive. Salah satu kata kuncinya tentu terkait dengan kebutuhan pasar, yaitu pelayanan yang cepat.

Merujuk pada realita ini, para jurnalis pun harus merubah strategi agar bisa tetap survive, yaitu dengan menyiapkan kemampuan menyajikan berita–berita yang aktual. Model penyajian informasi secara konvensional melalui media cetak, lambat laun akan semakin tersisih karena harus melalui proses produksi yang panjang yang otomatis membuat penyajian berita menjadi lebih lambat.

Untuk menjawab kondisi ini lahirlah peluang baru, bisnis media online. Persoalan yang kemudian muncul terkait tingkat keakurasian penyajian beritanya guna menjamin agar berita yang disajikan adalah benar sesuai dengan fakta, bukan berita hoax yang tingkat keakurasiannya diragukan.

Jadi tantangannya adalah kemampuan menyajikan berita atau informasi dengan cepat namun tetap harus mampu menjamin keakurasian informasi yang disajikan.

Ini artinya bicara terkait kompetensi jurnalis dan kode etiknya. Jangan sampai hanya karena mengejar trafic dan pemasang iklan, lalu mengabaikan hal–hal etik, atau bahkan mungkin bisa menimbulkan potensi pelanggaran kode etik.

Di sisi lain, tentu jangan sampai atas nama kode etik yang dinilai sangat sakral ini, lantas menghambat kebebasan menyampaikan pendapat atau mengekang ide–ide kreatif dalam menyajikan berita. Jembatan untuk menghubungkan dua kepentingan ini sangat diperlukan dalam bentuk tata aturan yang mengaturnya. Jangan sampai ada pihak–pihak yang merasa dirugikan.

Inilah yang menjadi pekerjaan rumah semua insan pers, khususnya jurnalis media online yang belum secara khusus ada aturan yang mengaturnya. Semangat kebebasan, harus disertai dengan semangat tanggung jawab, baik atas keakurasian informasi maupun kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan.

Rambu–rambu menjadi sangat penting. Oleh karena itu, duduk bersama semua pihak menjadi penting agar tidak terkesan saling memaksakan kehendak satu sama lain. Dengan duduk bersama melalui mekanisme musyawarah, tentu akan ditemukan jalan keluar yang bisa disepakati bersama.

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca Koropak, isi dari opini di luar tanggung jawab redaksi. Cara kirim tulisan, klik disini !


Berita Terkait