Benarkah Krakatau Penyebab Gelombang Tsunami Selat Sunda?

Selasa, 25 Desember 2018 18:32 Dede Hadiyana Nasional

Benarkah Krakatau Penyebab Gelombang Tsunami Selat Sunda?


Koropak.co.id - Gunung Anak Krakatau yang meletus pada Sabtu (22/12/2018) sore diduga menjadi pemicu gelombang tsunami di perairan Selat Sunda pada malam harinya. Akan tetapi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tidak sepenuhnya sependapat dengan argumen tersebut.

Setelah menyebut tidak terjadi tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut bahwa ternyata tsunami memang terjadi dan pemicunya diduga dari letusan gunung Anak Krakatau yang diikuti naiknya gelombang air laut di perairan Selat Sunda.

Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Wawan Irawan menuturkan, hal tersebut terlalu cepat untuk menyimpulkan terjadinya tsunami akibat letusan Anak Krakatau.

"Dari sisi kekuatan letusan juga masih rendah. Untuk terjadi tsunami karena letusan, itu perlu letusan yang cukup besar," ujarnya.

Sekarang ini, kata Wawan, Gunung Anak Krakatau terus mengalami peningkatan aktivitas. Masyarakat pun dilarang untuk mendekati kawah dalam radius 2 Kilometer.

Badan Geologi PVMBG dalam keterangan tertulisnya di Pos Pengamatan Anak Gunung Krakatau, Minggu (23/12/2018), menyatakan terdengar suara dentuman yang juga dirasakan di Pos Pengamatan hingga menggetarkan pintu pos.

"Sekitar pukul 21.03 WIB terjadi letusan. Setelah beberapa lama ada info tsunami. Namun, belum dapat memastikan apakah aktivitas letusan berkaitan dengan peristiwa tsunami. Pasalnya, rangkaian tremor aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terjadi sejak Juni 2018 tidak menimbulkan gelombang terhadap air laut, bahkan hingga tsunami," katanya.

Adapun material yang dilontarkan saat letusan yang jatuh di sekitar tubuh gunung api masih bersifat lepas dan sudah turun saat letusan saat itu juga.

 

 

Koropak.co.id - Benarkah Krakatau Penyebab Gelombang Tsunami Selat Sunda (3)

 

Baca : Air Laut Pasang Warga Panik

Untuk menciptakan tsunami sebesar itu, perlu ada runtuhan yang cukup besar yang masuk ke dalam kolom air laut. Dan untuk merontokan bagian tubuh yang longsor ke bagian laut diperlukan energi yang cukup besar, ini tidak terdeksi oleh seismograf di pos pengamatan gunung api.

"Longsoran mungkin saja terjadi. Tapi jika dari monitoring seismik tidak terlihat," ucap Wawan.

Ahli vulkanologi Jess Phoenix menjelaskan bahwa ketika gunung berapi meletus, magma panas mendorong ke bawah tanah dan dapat menerobos batu yang lebih dingin. Hal itu dapat memicu tanah longsor.

"Karena sebagian Anak Krakatu berada di bawah air, bukan hanya menyebabkan longsor saja, namun mendorong air saat bergerak. Inilah yang kemudian dapat menyebabkan tsunami," ucapnya.*

 

Baca : Dampak Tsunami Selat Sunda Memakan Banyak Korban

 


Berita Terkait