Menyongsong Gerbang Emas NU Dalam Satu Abad

Jum'at, 01 Februari 2019 17:14 Admin Opini

Menyongsong Gerbang Emas NU Dalam Satu Abad

  

Koropak.co.id - Menyongsong Gerbang Emas NU Dalam Satu Abad (2)

 

DALAM kalender Hijriyah, tiga tahun ke depan atau 7 tahun masehi ke depan, Nahdlatul Ulama (NU) memasuki usia satu abad. Sebuah usia panjang bagi NU sebagai sebuah organisasi keagamaan dan kemasyarakatan (Jam'iyah diniyah wal ijtima'iyah) yang didirikan oleh KH Hasyim Asy'ary bersama ulama pesantren lainnnya pada 16 Radjab 1344 atau 31 Januari 1926, dengan kantor pusat pertama berada di Jalan Bubutan IV Nomor 2, Surabaya Jawa Timur.

Dalam rentang waktu hampir 100 tahun perjalanannya, NU terus tumbuh dan berkembang melewati masa-masa sulit. Di saat ormas lain mengalami penurunan kiprah dan kehilangan jejaknya, NU justru tetap mampu berkontribusi besar dalam setiap fase kehidupan berbangsa dan bernegara melalui peran sosial, politik, keagamaan dan pendidikan.

Sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, NU istiqomah menganut prinsip paham Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Berdiri, tumbuh dan berkembang di tengah-tengah dinamika keummatan dan kebangsaan, di atas prinsip at-tasamuh, at-tawashut, at-tawazun wal i'tdal, yakni toleran, moderat, berimbang dan berkeadilan.

Karena itu dalam peran historisnya, baik dalam konteks sosial, politik, keagamaan, kebangsaan, kenegaraan dan ekonomi keummatan, NU selalu mempertimbangkan untuk mengindari kerusakan daripada manfaat yang hendak diperolehnya (dar ul mafasid muqoddam ala jalbil masholeh) dengan pola pendekatan yang akulturatif, memelihara nilai nilai-lama yang baik sambil membuka ruang bagi kemungkinan baru yang lebih baik (al muhafadloh ala qodimish sholeh wa akhdu bil jadidil aslah).

Itulah "ruh" kekuatan inti NU sebagai ormas islam dan sosial kemasyarakatan sekaligus daya elastisitasnya dalam mengarungi setiap fase kehidupan berbangsa dan bernegara serta dinamika perubahan sosial masyarakat dengan tantangan dan pergeseran nilai-nilai yang mengikutinya.

Jika dulu NU ladang pengabdiannya bertumpu pada kekuatan pendidikan pesantren, pelayanan umat secara tradisional dan aktivitas politik kepartaian, kini NU tanpa "goncangan budaya" sudah menapak, mendaki dan melebarkan sayap pengabdiannya pada kebutuhan perkembangan modern pelayanan umat. NU mendirikan sekolah-sekolah umum, perguruan tinggi dan rumah sakit sebagai instrumen bagi jalan mobilitas vertikal warga Nahdliyin untuk membuka ruang pengabdian baru di masa mendatang.

Menyongsong Gerbang Emas (Golden Gate) satu abad NU, penting bagi warga nahdliyin untuk bersama memantapkan peran historis sebagai landasan bagi mobilitas pengabdian NU. Sebagai Ormas Islam terbesar di Indonesia, rekam jejak kontribusinya yang besar terhadap perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara serta kekayaan kultural yang dimilikinya, NU dalam menyongsong satu abad usianya harus kita arahkan dan gerakkan sebagai "nafas" dan epicentrum dari seluruh sel sel kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

Dengan kata lain, Prinsip prinsip NU sebagai Ormas Islam yang toleran, moderat, berimbang dan berkeadilan harus diarahkan dan diinjeksikan dalam prinsip prinsip kehidupan sosial, politik, pendidikan, keagamaan dan ekonomi agar irama besar dan arus utama kehidupan berbangsa dan bernegara tidak mudah ditarik ke "kiri" dan diseret ke "kanan" yang dapat menimbulkan konflik konflik politik, disharmoni sosial berbobot SARA dan kesenjangan ekonomi yang selama ini menjadi persoalan persoalan krusial bagi pemantapan nilai nilai Pancasila dan kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam konteks tanggungjawab sejarah kekinian di atas, dalam pandangan penulis, dalam rangka menyongsong Gerbang Emas (Golden Gate) NU dalam satu abad usianya harus kita maknai bahwa secara internal, NU harus berikhtiar sungguh-sungguh untuk menguatkan struktrur organisasinya, pemantapan kekayaan kultur dan tradisinya, memperluas ladang pengabdianya, mendorong mobilitas vertikal SDM dan daya dukung ekonomi warganya.

Secara bersamaan dalam konteks kebangsaan, NU harus berperan sentral sebagai "pasak bumi" Indonesia, yang memberikan toleran, moderat, berimbang dan berkeadilan dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, baik dimensi kehidupan sosial, politik, pendidikan, keagamaan dan ekonominya.

 

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca Koropak, isi dari opini di luar tanggung jawab redaksi. Cara kirim tulisan, klik disini !