Wartawan Abal-Abal Nodai Citra Jurnalisme

Sabtu, 09 Februari 2019 21:24 Ahmad Mukhlis Daerah

Wartawan Abal-Abal Nodai Citra Jurnalisme

 

Koropak.co.id - Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Ciamis, Deni Hamdani merasa prihatin atas ulah wartawan yang tidak melaksanakan kode etik jurnalistik. Maraknya jumlah perusahaan industri media massa, ternyata juga diikuti dengan jumlah wartawan yang signifikan. Namun tidak semua perusahaan media massa cetak, online dan elektronik punya standar kompetensi yang sama dalam menentukan tugas wartawan.

"Karena itu, jadikan PWI menjadi rumah besar wartawan untuk belajar dan mengembangkan diri untuk memperbaiki kualitas SDM wartawan. Ditengah galaknya UU ITE, karya jurnalistik wartawan harus memegang teguh kode etik jurnalistik agar tidak melahirkan berita hoax," ujar Deni saat dijumpai Koropak selepas acara Munajat Pers Hari Pers Nasional (HPN) 2019, di Sekretariat PWI Ciamis, Sabtu (9/2/2019).

Menurut Deni, kuantitas insan pers yang menjamur ternyata tidak diikuti oleh kualitas sebagai wartawan. Bahkan kadang masih ada media massa yang tidak jelas legalitas perusahaan medianya.

"Inilah yang belakangan memunculkan wartawan abal-abal dan berperilaku premanisme. Ini ciri wartawan yang abal-abal. Dia tidak menjadi pilar demokrasi tapi justru menjadi parasit sosial, " kata Deni.

 

Koropak.co.id - Wartawan Abal-Abal Nodai Citra Jurnalisme

 

Baca : Pertandingan Basket Ramaikan Hari Pers Nasional


Menurut Deni, tidak mudah untuk menjadi seorang wartawan karena tidak cukup dengan wawasan luas tetapi juga harus menempuh berbagai pelatihan jurnalistik yang digelar oleh pihak-pihak berkompeten. Ini juga tergantung organisasinya masing-masing yang didukung oleh Dewan Pers. Meski begitu, standar profesionalitas seorang wartawan tetap saja menginduk ke perusahaan persnya sebagai institusi bisnis.

“Jika seorang wartawan sudah ditugaskan oleh perusahaannya melalui redakturnya di redaksi, itu harus dijalankan sesuai arahan redakturnya,” katanya

Deni mengaku prihatin, berdasarkan laporan dari masyarakat, masih banyak yang mengaku wartawan mendatangi sebuah proyek pembangunan infrastruktur kemudian memeriksa ketebalan besi, ketebalan adukan dan lainnya.

“Itulah contoh wartawan salah memilih profesi, seharusnya mereka jadi polisi, jaksa atau jadi ASN di inspektorat,” kata Deni.

Diakuinya, wartawan bekerja dengan nurani, harus sudah bisa memilih dan memilah mana yang layak jadi berita dan mana yang tidak, dengan tidak terlepas dari tabayun untuk menghindari hoax.

“Untuk meningkatkan kualitas wartawan, di PWI diberlakukan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang bekerjasama dengan Dewan Pers. UKW ini murni peningkatan kualitas tanpa ada imbalannya, tidak seperti sertifikasi guru yang sudah lulus uji kompetensi,” katanya.*

 

Baca : Insan Pers Tasikmalaya Peringati HPN dengan Menanam Pohon

 


Berita Terkait