KPAID Apresiasi Gerak Cepat Polisi

Jum'at, 01 Maret 2019 19:21 D. Farhan Kamil Daerah

KPAID Apresiasi Gerak Cepat Polisi

 

Koropak.co.id - Gerak cepat langkah pencarian yang dilakukan aparat Kepolisian Resort Tasikmalaya, membuahkan hasil sempurna. Serangkaian investigasi ke sejumlah pihak dan tempat termasuk penelusuran melalui teknolologi informasi digital tim Reserse dan Kriminal Polres Tasikmalaya patut diapresiasi.

Setelah hampir 4 bulan meninggalkan rumah karena menolak dinikahkan orang tua, Hilda Fauziah akhirnya ditemukan di wilayah Bandung dalam kondisi yang sama sekali tidak mengkhawatirkan.

"Tentunya kami sangat bahagia yang juga dirasakan pihak keluarga, ananda Hilda Fauziah telah ditemukan. Tentunya ini berkat gerak cepat jajaran Polres Tasikmalaya, masyarakat dan semua pihak yang terlibat termasuk media," kata Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya Ato Rinanto kepada Koropak, Jumat (1/3/2019).

Dalam tiga atau empat hari ke depan, kata Ato, KPAID berencana akan berkunjung ke rumah Hilda untuk mengetahui kondisi psikologisnya serta menginvestigasi lebih jauh tentang cerita dibaIik kepergian Hilda meninggalkan rumah orang tuanya dua pekan menjelang pernikahan dengan seorang pria.

"KPAID akan tetap melakukan pendampingan termasuk nanti jika dimintai keterangan di Polres Tasikmalaya," ujarnya.

 

Koropak.co.id - KPAID Apresiasi Gerak Cepat Polisi

 

Baca : Hilda yang Hilang Kini Telah Ditemukan

Ditambahkan Ato, keberanian Hilda serta segudang cerita tentang kehidupannya di balik penolakan atas tradisi masyarakat khususnya di Cijambu, Ato berniat akan mengangkat Hilda menjadi duta anak.

"Hilda akan didaftarkan ke Komnas perlindungan anak di bawah asuhan Kak Seto. Hilda patut mendapatkannya karena keberaniannya mendobrak tradisi,î ucapnya.

Ato menyebutkan, kawin gantung yang sudah menjadi tradisi umumnya di daerah perdesaan sejak puluhan bahkan ratusan tahun itu, tidak bisa dihapus begitu saja. Kecuali dengan kesepakatan warga untuk mengikisnya.

"Di Cijambu sendiri, kawin gantung sudah menjadi tradisi turun temurun, dimana si anak gadis sejak SD sudah didatangi orang tua dan dilamar oleh orang tua lelaki. Karena sudah "diciran", si gadis pun tidak lagi bebas berhubungan dengan laki-laki lain.*

 

Baca pula : Hilda Bertahan Hidup di Konter HP

 


Berita Terkait