Salah Memilih Pemimpin, Hancur Masa Depan Bangsa

Senin, 18 Maret 2019 09:27 Clara Aditia Nasional

Salah Memilih Pemimpin, Hancur Masa Depan Bangsa

 

Koropak.co.id - Indonesia mendambakan sosok pemimpin yang pro rakyat, dan dapat melibatkan para raja dalam merumuskan kebijakan bagi bangsa, sebab tidak dapat dimungkiri, sejarah berkata bahwa pemilik terdahulu bangsa Indonesia adalah para raja.

Demikian disampaikan Pemangku Adat Kerajaan Gowa, Drs M Hatta Hamzah yang bergelar Karaeng Gajang saat Ramah Tamah bersama Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso yang digelar di Marc Hotel Jakarta, Kamis (14/3/2019). Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan Deklarasi Dukungan Raja Se-Nusantara untuk Prabowo-Sandiaga Uno yang digelar di Kediaman Prabowo Subianto di Padepokan Garudayaksa, Bukit Hambalang Bogor, Jumat (15/3/2019).

"Sekarang APBN Rp 6.000 trilyun, dari mana kalau bukan dari perut bumi nusantara, siapa pemiliknya? Para leluhur kita. Kemudian kita pernah terjajah Belanda selama ratusan tahun, siapa yang melawan? Negara ini ada tahun 1945, jadi para raja yang punya laskarlah yang melawan penjajah," kata Karaeng.

 

Koropak.co.id - Salah Memilih Pemimpin, Hancur Masa Depan Bangsa (2)

 

Baca : Ketahanan Budaya Intan Berlian Pemersatu Bangsa

 

Prabowo, ucap Karaeng, sangat memahami itu, dan sangat menghargai para raja, yang selama ini, anak cucunya raja menjadi kaum yang termarjinalkan di negeri sendiri. Termarjinalkannya para raja, kata Karaeng, turut dirasakan oleh Kerajaan Gowa. Terdapat kasus saat seorang kepala daerah memaksakan membuat Perda yang menyatakan siapa yang menjadi bupati otomatis jadi Raja Gowa.

"Aturan itu darimana dasarnya? Para raja kan menitis, turun temurun ke anak cucu. Sedangkan bupati, hanya pejabat 5 tahunan, dan bahkan bisa jadi bupati tersebut berasal dari luar Gowa, apakah layak dijadikan Raja Gowa? Kan tidak," katanya.

 

 

Koropak.co.id - Salah Memilih Pemimpin, Hancur Masa Depan Bangsa (3)

 

Baca : Prihatin Masa Depan Bangsa Bobrok

 

Hal miris lainnya, kata Karaeng, di Kerajaan Gowa saat ini sudah tidak bisa melaksanakan upacara adat yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Padahal sebelumnya rutin diadakan setiap tahun.

"Upacara adat mencuci benda pusaka sudah ada sejak ribuan tahun. Tapi saat ini, benda-benda pusaka di Gowa di police line. Padahal benda-benda pusaka Kerajaan Gowa sudah masuk dalam benda heritage. Ini sangat miris," tuturnya.

Diharapkan, ucap Karaeng, lahir pemimpin baru bangsa Indonesia yang mempunyai kebijakan untuk kerajaan-kerajaan se-Nusantara.

"Sosok tersebut ada dalam diri Pak Prabowo. Jadi kita jangan sampai salah memilih pemimpin, karena kalau salah, anak cucu kita bisa hancur ke depannya," katanya.*

 

Baca : Indonesia Sekeping Surga yang Jatuh Ke Bumi

 


Berita Terkait