Pesta Demokrasi Membawa Duka

Sabtu, 20 April 2019 14:13 Clara Aditia Nasional

Pesta Demokrasi Membawa Duka


Koropak.co.id - Pesta demokrasi akbar yang melangsungkan 5 pertarungan politik multilevel secara serentak, mulai dari Pemilu Presiden, Pemilu Legislatif DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota yang berlangsung pada 17 April 2019 tidak hanya menjadikan suka cita dan kebanggaan.

Memang, kala itu Indonesia tengah menjadi setitik sinar di dunia, sebab Ibu Pertiwi tengah menjadi pusat perhatian negara-negara dari berbagai belahan penjuru bumi. Bahkan, tidak sedikit negara yang menyampaikan pujian dan apresiasi bagi Indonesia atas keberhasilannya melangsungkan 5 kontestasi politik secara bersamaan, dan berjalan sukses.

Namun, di balik euforia tuntasnya pertarungan demokrasi yang begitu megah dan mencuri perhatian dunia, ada duka yang membuat Ibu Pertiwi menangis. Para pejuang penyelenggara pemilu di tingkat TPS bertumbangan. Bahkan untuk di Jawa Barat, tercatat 12 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dipanggil Sang Khalik pasca melaksanakan tugas mulianya sebagai juru adil dalam Pemilu 2019.

Tercatat di Kabupaten Purwakarta 2 petugas (Damanhuri dan Carman), Kabupaten Bandung 1 petugas (Indra Lesmana), Kabupaten Tasikmalaya 2 petugas (H. Jeje dan Supriyanto), Kabupaten Kuningan 1 petugas (Nana Rismana). Di Kabupaten Bogor 1 petugas (Jaenal), Kota Sukabumi 1 petugas (Tatang Sopandi), Kabupaten Sukabumi 2 petugas (Idris Hadi dan Usman Suparman), Kabupaten Karawang 1 petugas (Yaya Suhaya), dan Kota Bekasi 1 petugas (Ahmad Salahudin).

 

Koropak.co.id - Pesta Demokrasi Membawa Duka (2)

 

Baca : Masyarakat Dihadapkan Pada Ketidakpercayaan

Pesta demokrasi berakhir duka dikritisi Dewan Kiyai Pondok Pesantren Husnul Khotimah, H. Asep Saepulloh. Dijumpai Koropak di Kampus Pondok Pesantren Husnul Khotimah, jalan Petir Gunajaya, Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya, Sabtu (20/4/2019), Asep menuturkan Pemilu serentak membuat petugas KPPS bekerja ekstra keras.

"Mereka harus menghitung 5 kotak suara dan harus tuntas dalam satu hari. Tidak heran jika ada yang bergadang hingga tuntas pada esok siangnya. Padahal Pemilu sebelumnya tidak melelahkan seperti itu, tidak terlalu banyak hasil suara yang harus dihitung," ujarnya.

Asep menilai dampak tersebut tidak terantisipasi oleh pemerintah sebelumnya. Oleh sebab itu, ke depan sebaiknya petugas KPPS dipilih dari masyarakat yang masih memiliki stamina on fire, bahkan bila perlu disertai data tes kesehatan.

"Dengan tanpa aturan kesehatan yang jelas, menyebabkan banyak petugas KPPS yang bertumbangan bahkan banyak yang meninggal. Seyogianya ini jadi pembelajaran bagi pemerintah agar dapat membuatkan regulasi untuk petugas KPPS, jangan sampai pesta demokrasi berakhir duka, pesta demokrasi mengorbankan rakyat," ucapnya.

 

Koropak.co.id - Pesta Demokrasi Membawa Duka (3)

 

Baca : Spekulasi Quick Count Pemilu 2019 Terus Bergerak Dinamis

Pasca Pemilu, kata Asep, diharapkan masyarakat dapat rukun dan kembali bersatu dalam bingkai NKRI sebab bagaimana pun jua, dalam setiap kontestasi akan melahirkan perbedaan pilihan, melahirkan siapa menang siapa kalah. Masyarakat diharap dapat dewasa menerima hasil kontestasi.

"Siapapun presiden terpilih nanti, Insyaallah tidak akan menyengsarakan bangsa. Jika ada kekeliruan pemimpin negara dalam mengaplikasikan kebijakan, bisa menjadi bahan untuk dikoreksi bersama, toh sifat dasar manusia bisa berubah dari yang salah menuju yang benar," katanya.

Asep menyarankan meskipun presiden yang terpilih tidak sesuai dengan pilihan masing-masing, namun diharapkan dapat saling menerima dan menghormati. Kokohkan keyakinan bahwa semua presiden ingin negaranya maju sebab pada akhirnya, harga dirinya sendiri yang akan dipertaruhkan.*

 

Baca : Dari Wisuda Hingga Hajatan Inilah TPS Unik di Garut

 


Berita Terkait