KPU Meragukan, Masyarakat Dibingungkan

Rabu, 24 April 2019 18:28 Clara Aditia Nasional

KPU Meragukan, Masyarakat Dibingungkan


Koropak.co.id - Menyoal perhitungan suara, jangankan sekedar lembaga penyedia hasil perhitungan cepat atau quick count, pihak penyelenggara pemilu, dalam hal in Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang ditunjuk oleh negara pun terkena serangan opini yang dianggap meragukan netralitasnya.

Lantas, jika KPU tidak dipercaya lagi, lalu perhitungan pemilu harus mempercayai siapa? Sekali lagi rakyat tambah bingung, mana informasi yang benar. Dalam situasi seperti ini, seharusnya semua pihak bisa menahan diri dan bersabar, serta tidak ada satu pihak manapun yang menyebar kebohongan ataupun kecurangan.

Kepada Koropak, Rabu (24/4/2019), Aktivis Sosial Kemasyarakatan, Dede Farhan Aulawi menuturkan siapapun yang menyebarkan kebohongan ataupun melakukan kecurangan, maka pada dasarnya ia sedang memprovokasi masyarakat.

"Jika karena provokasinya menyebabkan timbul gesekan di masyarakat, maka ia harus bertanggung jawab atas setiap tetes darah yang keluar. Ia juga harus bertanggung jawab bila ada nyawa yang melayang. Ingat, akar rumput itu bagai ilalang kering. Saat ada pemantik api yang menyala, maka kebakaran takkan bisa lagi terhindarkan," ucapnya.

 

Koropak.co.id - KPU Meragukan, Masyarakat Dibingungkan (2)

 

Baca : Surat Suara Tercoblos di Malaysia Bukan Hoax

Dikatakan Farhan, di dunia semua bisa saling menyanggah dan tidak mengakui kesalahan, tapi mereka lupa bahwa selain dunia ada pertanggungjawaban yang lebih hakiki, yaitu pertanggungjawaban di hadapan Tuhan YME yang pasti tidak bisa dibohongi dan tidak bisa dibeli.

"Kekuasaan dan kedudukan itu adalah amanah, maka dapatkanlah amanah itu dengan benar dan jujur. Jika amanah dan kekuasaan diperoleh dengan tidak jujur, maka hampir bisa dipastikan bahwa ia tidak akan mampu menunaikan amanahnya dengan benar," tutur pria kelahiran Tasikmalaya 27 April 1970 itu.

Saat kursi dibeli dengan uang dan kecurangan, kata Farhan, maka ia berbuat curang dan mencuri uang negara untuk mempertahankan kekuasaannya. Farhan mengingatkan bahwa amanah bukanlah barang yang bisa diperjualbelikan, tetapi sesuatu yang pasti akan diminta pertanggungjawabannya.

 

Koropak.co.id - KPU Meragukan, Masyarakat Dibingungkan (3)

 

Baca : Hasil Quick Count Televisi Tak Sesuai Lapangan

Oleh karena itu, ucap Farhan yang juga aktif di beberapa organisasi masyarakat seperti Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (Kosgoro), Gerakan Nasional Pencegahan Korupsi Republik Indonesia (GNPK-RI), Lembaga Anti Terorisme dan Radikalisme (Lantera) Indonesia, siapapun yang suka sekali memproduksi informasi-informasi yang bohong (hoax) diharapkan bisa menghentikan segera perbuatannya. Siapapun yang melakukan kecurangan, berhentilah karena pertanggungjawaban atas perbuatannya sangat berat.

"Jika dengan kewenangan yang dimiliki digunakan untuk bermain curang, maka percayalah bahwa kedudukan itulah yang akan menjadi beban di yaumul akhir nanti. Jika mampu menghentikan berita bohong (hoax) dan kecurangan, itu artinya kita sedang membangun fondasi gedung yang bisa menaungi kedamaian, kebenaran dan kejujuran," tuturnya.

Ditambahkan Farhan, siapapun yang terpilih menjadi pemimpin yang terpilih dengan jujur, maka ia adalah pemimpin keadilan, pemimpin kejujuran dan pemimpin yang penuh ketauladanan. Semoga Indonesia memiliki pemimpin ideal seperti yang diharapkan.*

 

Baca : Stop Provokasi Penuh Kebohongan dan Kecurangan



 




Berita Terkait