Bias Kontestasi Politik Harus Sudah Lenyap

Kamis, 16 Mei 2019 00:20 D. Farhan Kamil Daerah

Bias Kontestasi Politik Harus Sudah Lenyap

 

Koropak.co.id - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tasikmalaya yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Sukahideng Kecamatan Sukarame, KH. Ii Abdul Basith Wahab mengatakan, salah satu hikmah puasa di bulan Ramadan ini adalah mengantisipasi dan mengendalikan keinginan karena dorongan seksual serta keinginan yang didasari kebencian.

Momentum pasca Pemilu April 2019 lalu menurut dia, masih sangat kental terasa di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Bias kontestasi politik kemarin, diakui atau tidak menyisakan sayatan luka terhadap bangsa. Kebencian, serta perpecahan antar umat.

Salah satunya akibat hoax, informasi bohong, ujaran kebencian, provokatif mempengaruhi sebagian masyarakat untuk membenci bahkan menghakimi satu sama lain.

"Hiruk-pikuk yang terjadi saat ini sebagai bias pemilu lalu, harus kita sudahi di bulan suci penuh berkah ini. Mari kita bangkit dan kembali menjalin persaudaraan dengan sesama bangsa terutama sesama umat Islam dan ciptakan kedamaian," tutur KH. Ii menjelang acara buka bersama keluarga besar Polres Tasikmalaya di Mapolres Tasikmalaya, Jalan Raya Mangunreja, Rabu (15/5/2019).

 

Koropak.co.id - Bias Kontestasi Politik Harus Sudah Lenyap (2)

 

Hadir dalam kegiatan tersebut yaitu, ratusan alim ulama, pimpinan pesantren, MUI, tokoh masyarakat, pemuda dan ormas Islam, organisasi kepemudaan serta jajaran pimpinan daerah yang tergabung dalam Forkopimda dan para kepala SKPD di lingkungan Pemkab Tasikmalaya.

Momen puasa Ramadan ini terang dia, harus mampu membentengi diri dari segala perbuatan, tindakan atau ucapan yang merugikan diri sendiri dan orang lain serta mengotori kesucian bulan Ramadan. Pada konteks masifnya fitnah, ujaran kebencian yang didasarkan pada pemahaman keagamaan yang sempit, sudah sepatutnya diakhiri.

“Substansi puasa bukan hanya menahan lapar dan haus tetapi juga menahan hawa nafsu yang dapat menyakiti manusia dan lingkungan sekitarnya. Semata-mata Allah SWT tidak butuh puasa seseorang hamba jika hanya sekedar menahan lapar dan dahaga, "ucapnya.

 

Baca : MUI Hembuskan Kedamaian di Bulan Ramadan

Baca : Kiyai Pesantren Iringi Do'a Melepas KPU

 

Ditambahkan, umat Islam seyogyanya harus lebih takut kepada Allah SWT dari pada siapapun. "Allah maha tahu terhadap siapapun yang berpura-pura benci karena Allah, padahal ia benci karena ambisi. Jangan sekali-kali menjual Allah kepada ambisi kita," ujarnya.

Lebih jauh KH. Ii mengingatkan kembali umat Islam penganut madzhab Ahlussunnah Wal Jamaah, agar menerima segala bentuk keputusan Allah SWT.

"Kita sebagai hamba-NYA hanya diperintahkan untuk menerima dan bersabar atas kehendak dan ketetapan Allah SWT termasuk juga keputusan akhir nanti terkait hasil Pemilu 2019. Mari kita menghormati proses menjelang keputusan resmi KPU. Dan menghormati serta menempuh mekanisme sesuai prosedur atau ketentuan yang telah disepakati bersama, manakala dirasakan ada ketidakpuasan dalam penyelenggara kontestasi politik April lalu," katanya.*

 

Baca : Deklarasi Damai Pasca Pemilu Warna Buka Puasa

Baca : Pangdam Imbau Masyarakat Bersatu Pasca Pemilu

 


Berita Terkait