Suningsih : Walaupun Bebas, Tetapi Tetap Ada Batasannya!

Minggu, 07 Juli 2019 11:08 Admin Opini

Suningsih : Walaupun Bebas, Tetapi Tetap Ada Batasannya!

 

 

Koropak.co.id - Suningsih,  Walaupun Bebas, Tetapi Tetap Ada Batasannya!

 

DI ERA SEKARANG, internet sudah menjadi kebutuhan primer yang melekat pada diri setiap masyarakat Indonesia. Namun, kemajuan teknologi, khususnya sosial media rupanya tidak selalu menimbulkan dampak yang positif. Ada beberapa kasus yang memang sengaja dibawa sampai ke meja hijau karena pengguna berulah di sosial media. Hal yang lebih mengerikan lagi, orang-orang tersebut sebenarnya berada di sekitar kita.

Sosial media sendiri bisa dikatakan sebagai free space bagi netizen. Berawal dari kebebasan itulah yang membuat orang bertahan berlama-lama berada di dunia yang maya. Dengan mudahnya peredaran informasi menjadi kian sulit terbendung termasuk konten-konten apa saja bisa dengan cepat menjadi viral. Misalnya, sebuah peristiwa lucu yang tidak terpikirkan akan viral bisa menjadi viral.

Salah satunya Instagram yang merupakan salah satu media sosial yang memiliki banyak pengguna. Di Instagram sendiri, terdapat 14,3 milyar kiriman ber-hashtag viral, sebanyak 283 ribu ber-hashtag viral Indonesia, dan beberapa hashtag lain yang mengandung kata viral banyak digunakan. Isi kontennya pun bermacam-macam serta arti dari konten tersebut sengaja diunggah dan di-setting agar banyak yang memberikan like atau sekadar melihat postingan viral itu.

Dalam pandangan penulis, kebebasan bersosial media justru semakin hari semakin memprihatinkan khususnya di Indonesia. "Ruang Bebas” dalam sosial media yang diharapkan mampu mempermudah dalam beraktivitas, justru kerap digunakan untuk hal-hal yang negatif. Bahkan, banyak pengguna sosial media yang tidak memfilter apa yang dibagikannya. Hal tersebut berbanding lurus dengan mudahnya orang lain dalam mengakses dan membagikan ulang seperti dengan fitur screenshot, rekam layar maupun tombol bagikan.

Selain ruang bebas, sosial media juga menjadi free speech bagi warganet dengan alasan, kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat yang akhirnya netizen dengan bebasnya melontarkan komentar-komentar miring bernada cemooh atau menghina pihak lain. Tidak jarang hal tersebut berujung di meja peradilan melalui jeratan UU ITE.

Hukum yang berlaku di Indonesia bagi pengguna sosial media yaitu tindak pidana penghinaan atau pencemaran nama baik dalam ITE Pasal 27 ayat 3, dengan hukuman 6 tahun penjara dan denda Rp 750 juta Rupiah. Walaupun Undang-Undang ITE saat ini kerap digalakkan, bukannya takut, melainkan banyak netizen berlindung di balik akun bodong. Baik dengan nama akun yang dikarang sendiri, akun online shop, maupun mengatasnamakan orang lain. Hal itu terlihat sepele, namun jika dibiarkan tentu akan menimbulkan keresahan.

Komentar-komentar individual bernada cemooh ini tak jarang dilakukan untuk keuntungan dan kesenangan tertentu. Misalnya, sedang ingin lari dari masalah, iseng, mencari teman, ingin mencapai perasaan yang lebih baik, bahkan hanya karena kurang kerjaan. Contoh lainnya ketika membuka akun Instagram gosip yang notabene banyak menciptakan netizen berkomentar mencemooh. Di akun tersebut biasanya akan terlihat siapa saja following akun kita yang memberikan like ataupun berkomentar. Alhasil, netizen dengan segala sikap tersebut sebenarnya berada di sekitar kita, atau bahkan teman kita sendiri.

Sosial media sejatinya merupakan fasilitas yang sangat bermanfaat apabila tepat dalam menggunakannya. Karena dengan sosial media, pengguna dapat bersosialisasi dengan orang lain tanpa terikat jarak. Dengan mengagungkan "free", tentu kita dapat dengan bebas berekspresi, namun tidak dibenarkan apabila melakukan hal-hal yang merugikan banyak pihak. Walaupun bebas, tetapi tetap ada batasannya!.

 

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca Koropak, isi dari opini di luar tanggung jawab redaksi. Cara kirim tulisan, klik disini !

 


Berita Terkait