Memory of Galunggung, Memorabilia Ganasnya Letusan Galunggung

Jum'at, 12 Juli 2019 18:58 Wanda Kurnia Nasional

Memory of Galunggung, Memorabilia Ganasnya Letusan Galunggung

 

Koropak.co.id - Tahun 2019 menjadi tahun ke-37 Gunung Galunggung di Tasikmalaya meletus. Tragedi yang terjadi pada gunung berapi dengan ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut, tidak hanya menimbulkan duka bagi masyarakat Tasikmalaya saja, namun juga menyedot perhatian dunia.

Usai meletus, Gunung Galunggung terus mengeluarkan isinya selama lebih dari sembilan bulan, hingga 8 Januari 1983. Abu vulkanik Galunggung sampai ke sejumlah kota yang lokasinya cukup jauh dari Tasikmalaya, mulai Bandung, Bogor, Sukabumi dan Jakarta.

Abu vulkanik Gunung Galunggung juga mengganggu sejumlah penerbangan domestik dan internasional hingga pemerintah meminta seluruh penerbangan menghindari wilayah udara Galunggung.

Saat ini, upaya mengenang tragedi tersebut terus dilakukan masyarakat Tasikmalaya. Termasuk melalui gelaran Memory of Galunggung yang digelar mulai Jumat (12/7/2019) hingga Minggu (14/7/2019).

 

 

Koropak.co.id - Memory of Galunggung, Memorabilia Ganasnya Letusan Galunggung (2)

 

Baca : Memory of Galunggung, Merawat dengan Momentum Kebudayaan

 

Namun, tahukah kamu hingga tahun 1982, Gunung Galunggung tercatat telah meletus sebanyak 4 kali? Berikut Koropak telah menyiapkan ulasannya.

1. Letusan pada tahun 1822
Pada tahun 1822 Gunung Galunggung tercatat pernah meletus, tanda awal letusan diketahui pada Juli 1822 di mana air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur. Kemudian pada 8 hingga 12 Oktober 1822 letusan Gunung Galunggung menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar. Letusan ini menewaskan 4.011 jiwa dan menghancurkan 114 desa, dengan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak gunung.

 

2. Letusan pada tahun 1894
Letusan Gunung Galunggung berikutnya terjadi pada 7 Oktober 1894 yang menghasilkan awan panas. Lalu pada tanggal 27 Oktober 1894 terjadi aliran lahar dingin yang mengalir pada alur sungai yang sama dengan lahar yang dihasilkan pada letusan tahun 1822. Letusan kali ini menghancurkan 50 desa. Bahkan, sebagian rumah ambruk bukan karena letusan langsung namun karena tertimpa hujan abu yang tebal.

 

Baca : Histori Geologi Galunggung Ungkap Mitigasi Soal Gunung Berapi

 

3. Letusan pada tahun 1918
Pada 6 Juli 1918, letusan Gunung Galunggung terjadi dengan diawali gempa bumi. Letusan tersebut menghasilkan hujan abu setebal 2 hingga 5 mm yang terbatas di dalam kawah dan lereng selatan. Pada 9 Juli 1918 tercatat pemunculan kubah lava di dalam danau kawah setinggi 85 m dengan ukuran 560x440 m yang kemudian dinamakan Gunung Jadi.

 

4. Letusan pada tahun 1982
Letusan terakhir Gunung Galunggung terjadi pada tanggal 5 Mei 1982 disertai dengan suara dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar. Letusan ini berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada Januari 1983. Selama periode letusan ini sekitar 18 orang meninggal, dengan total kerugian mencapai Rp 1 Milyar dan 22 desa ditinggal tanpa penghuni.

 

Baca  : Ngaguar Budaya Tasikmalaya di Memory of Galunggung

 

Koropak.co.id - Memory of Galunggung, Memorabilia Ganasnya Letusan Galunggung (3)

 

Baca : Kenalkan Destinasi Wisata di Kabupaten Tasikmalaya ke Dunia

Pada tanggal 24 Juni 1982 pesawat Boeing 747 British Airways mendarat darurat di Bandara Halim Perdanakusuma karena kerusakan mesin akibat menghisap abu Gunung Galunggung pada ketinggian 9.450 meter sekitar 500 mil dari Pantai Selatan Garut.

Selain itu, pada 13 Juli 1982 abu Gunung Galunggung juga mengganggu penerbangan Boeing 747 Singapore Airlines nomor penerbangan 21A dari Singapura menuju Sydney dan Melbourne yang memaksa pesawat tersebut mendarat darurat di Halim Perdanakusuma.

 

Baca : Promos Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya Melalui Karnaval  Budaya

 

Letusan ini juga menyebabkan berubahnya peta wilayah pada radius sekitar 20 km dari kawah Gunung Galunggung yaitu mencakup Kecamatan Indihiang, Kecamatan Sukaratu, dan Kecamatan Leuwisari. Perubahan peta tersebut disebabkan oleh terputusnya jaringan jalan dan aliran sungai serta areal perkampungan.

Pasca letusan, sekitar tahun 1984 hingga 1990 merupakan masa rehabilitasi kawasan bencana. Termasuk pembangunan check dam atau kantong lahar dingin di daerah Sinagar sebagai benteng pengaman.

Sejak tahun rehabilitasi tersebut, dilakukan pemanfaatan pasir Galunggung yang diakui sangat berkualitas untuk bahan material bangunan maupun kontruksi jalan raya. Bahkan hingga saat ini pengerukan pasir Galunggung semakin berkembang, dan seolah menunjukan bahwa kekayaan alam pasir Galunggung tidak pernah habis.*

 

Baca : Puncak Memory of Galunggung Instropeksi Atas Musibah Galunggung