HIPKI Dukung Wacana Pemerintah Impor Rektor Luar Negeri, Apa Alasannya?

Selasa, 06 Agustus 2019 18:02 Dedi Sofwan Nasional

HIPKI Dukung Wacana Pemerintah Impor Rektor Luar Negeri, Apa Alasannya?

 

Koropak.co.id - Ketua Umum Himpinan Penyelenggara Pendidikan dan Kursus Indonesia (HIPKI) mendukung langkah pemerintah mengimpor Rektor luar negeri.  Kepada Koropak, Senin (5/8/2019), Ketua Umum HIPKI Drs, H. Asep Syaripudin, M.Si menuturkan keharusan mengimpor Rektor luar negeri karena SDM Indonesia jauh tertinggal. Di Asean saja Indonesia hanya unggul di atas Kamboja, Laos, dan Myanmar.

"Singapura menempati peringkat pertama dengan skor 77,27 yang sudah lebih dulu mengimpor Rektor dari luar negeri sedang Indonesia berada di posisi ke enam dengan skor sebesar 38,61. Artinya penting mengimpor tenaga ahli dari luar negeri supaya Indonesia segera bisa bersaing," katanya.

Asep mencontohkan, di Belanda memerlukan tenaga perawat sebanyak 25.000 tapi tenaga perawat dari Indonesia belum memenuhi standar. Sudah menjadi tugas bersama untuk melengkapi kekurangannya agar tenaga perawat bisa diterima di Belanda dengan gaji yang sangat tinggi.

"Begitupun di bidang-bidang lain, SDM kita belum bisa bersaing SDM-nya. Pertanyaannya, apa Indonesia siap industri 4.0? Indonesia berada di urutan 67 dari 125 negara di dunia dalam peringkat Global Talent Competitiveness Index (GTCI) 2019," katanya.

GTCI, kata Asep, merupakan pemeringkatan daya saing negara berdasarkan kemampuan atau talenta sumber daya manusia yang dimiliki negara tersebut. Oleh sebab itu SDM penting untuk menjadi prioritas pemerintah.

"Bisa dibilang bahwa daya saing SDM di Indonesia masih kalah jika dibandingkan dengan negara lain. Salah satu cara meningkatkan daya saing adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Apalagi anggaran pendidikan Indonesia naik menjadi Rp 492,5 triliun pada 2019 atau 20 persen dari Belanja APBN," tutur Asep.

 

Koropak.co.id - HIPKI Dukung Wacana Pemerintah Import Rektor Luar Negeri, Apa Alasannya

 

Baca : Mantapkan Soft Skill Mahasiswa  Dalam Hadapi Bonus Demografi

 

Berdasarkan laporan yang dipublikasikan oleh World Economic Forum, kata Asep, peringkat kualitas sistem pendidikan di Indonesia berada di urutan ke-54 dengan skor 4,3. Jauh tertinggal 31 level dari negara tetangga, Malaysia yang ada di peringkat 23. Sementara itu, Inggris ada di rangking 24 dan Amerika Serikat di posisi ke-25.

"Kita kagum dengan negara kecil di Eropa yang letaknya paling pojok diujung yaitu Finlandia yang selalu menjadi urutan ke 1 di dunia dengan skor 6,7. Finlandia sangat terkenal dengan sistem pendidikannya yang tidak mengklasifikasikan siswa sesuai tingkat kecerdasannya. Semua siswa masuk kelas yang sama tanpa pembedaan kemampuan," ucapnya.

Sistem pendidikan ini, tutur Asep, telah memberikan hasil yang sangat menggembirakan dari kesenjangan antara siswa lemah dan siswa cerdas. Ini artinya kecerdasan hampir merata untuk semua siswa, sehingga skor kesenjangan antara yang pintar dan yang bodoh adalah yang terendah di dunia.

"Harapan Indonesia untuk menjadi negara kuat dengan target urutan ke 4 dunia tahun 2045 rasanya sulit terwujud jika SDM-nya tidak segera dibenahi karena peringkat kita masih jauh tertinggal tingkat kecerdasannya dibanding dengan negara tetangga dan negara-negara lainnya," ujarnya.*

 

Baca : Kinerja Teruji Abdusy Syakur Kembali Dipercaya Jadi Rektor Uniga


Berita Terkait