Jangan Risau! Jadikan Program Impor Rektor Sebagai Ajang Olimpiade

Jum'at, 09 Agustus 2019 17:51 Clara Aditia Nasional

Jangan Risau! Jadikan Program Impor Rektor Sebagai Ajang Olimpiade


Koropak.co.id - Ketua Sekolah Tinggi Hukum Galunggung (STHG) Tasikmalaya, Dwiadi Cahyadi, SH., M.Hum mengaku tidak gentar menghadapi wacana pemerintah untuk mengimpor rektor luar negeri. Justru, harus dijadikan sebagai ajang kompetisi, bersaing dengan SDM dari luar negeri.

Demikian disampaikan Dwiadi kepada Koropak, Kamis (8/8/2019) saat mengomentari isu impor pejabat rektor yang diberitakan Koropak, Selasa (6/8/2019). Dikatakan Dwiadi, jika memang gelisah karena wacana impor rektor tersebut, hal itu berarti orang tersebut sangat berambisi untuk menjadi rektor, dan ketakutan gelar rektornya digeser rektor impor.

"Jika wacana impor rektor bikin gelisah, patut dipertanyakan masihkah kita bertuhan? Apakah agamanya tidak mengajarkan bahwa jalan hidupnya sudah ditentukan? Jadi, harusnya tidak keberatan, justru dijadikan peluang untuk membuktikan kompetensi yang dimilikinya. Bukankah dengan olimpiade kita tahu sejauh mana mutu kita?," tuturnya.

 

Koropak.co.id - Jangan Risau! Jadikan Program Impor Rektor Sebagai Ajang Olimpiade

 

Baca : HIPKI Dukung Wacana Pemerintah Impor Rektor Luar Negeri, Apa Alasannya?

Ditambahkan Dwiadi, satu hal yang dibutuhkan oleh rektor Indonesia guna dapat bersaing dengan SDM asing adalah memiliki visinya jelas dan mampu membuktikannya. Tidak hanya banyak bicara, tapi bisa bekerja. Hal itu dikarenakan beberapa SDM Indonesia hanya jago retorika tapi tidak mampu membuktikan kapasitasnya.

"Asalkan semua fair. Baik rektor yang diimpor maupun rektor dari kita diberi kesempatan yang sama, syaratnya harus sama, dan kriteria juga harus sama. Jadi memiliki titik start up yang sama untuk bersaing dan membuktikan kompetensi masing-masing. Bahkan, harusnya SDM kita menang karena lebih mengenal siapa yang kita hadapi," ujarnya.

Adanya isu bahwa SDM Indonesia kurang kompeten, Dwiadi hal itu dapat dibenarkan mengingat SDM Indonesia itu cenderung manja.

"Coba bayangkan, tanah kita subur, iklimnya nyaman, jadi tanpa perlu berjuang juga kita tetap bisa hidup. Itu yang membuat SDM kita manja. Lain hanya dengan SDM dari Eropa dengan 4 musim, mereka bekerja 6 bulan demi hidup satu tahun ke depan," tuturnya.*

 

Baca pula : Soal Wacana Impor Pejabat Rektor, Universitas Galuh Tak Gentar

 


Berita Terkait